6455_1101522103748_1397575446_30269532_3152382_n

SOLIDARITY  DAY For Latin America

Persatuan Pelajar Indonesia-Amerika Latin

menggelar hari Solidaritas untuk Amerika Latin

Pada: 31 Juli 2009

Waktu:  pkl 13.00 WIB-16.oo WIB.

Tempat : Intitut Globas Justis , Menteng Jakarta Pusat

Puisi-puisi Heri Latief

KOMPAS/PRIYOMBODO
Gedung DPR RI
/Sabtu, 25 Juli 2009 | 23:51 WIB
Tahun 1982 Ke Jerman Barat, sekolah sampai 1986, di jurusan ekonomi dan politik. Pernah tinggal dan sekolah di Neumunster. Kini tinggal di Belanda Baca selebihnya »

LOMBA KARYA TULIS MAHKAMAH KONSTITUSI 200

Tema karya tulis yang dilombakan adalah Peran Mahkamah Konstitusi dalam Proses Demokratisasi.

Dengan sub tema: Baca selebihnya »

Memperingati HUT Bung Karno 6 Juni: Perubahan Besar dengan Jiwa Revolusioner Bung Karno

Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid. free.fr/. Sumbangan fikiran untuk renungan bersama

Oleh: Umar Said

Memperingati Hari Ulang Tahun Bung Karno pada tiap tanggal 6 Juni adalah
suatu hal yang amat penting, mengingat tempatnya yang amat tinggi dan begitu
terhormat dalam sejarah rakyat Indonesia berkat jasa-jasanya yang besar
dalam perjuangan untuk kemerdekaan, dan mengingat pula betapa pentingnya
ajaran-ajaran revolusionernya untuk mempersatukan seluruh bangsa. Di antara
ajaran-ajarannya yang teramat penting itu adalah Pancasila, yang sudah
menjadi dasar negara Republik Indonesia dan hari lahirnya pada tanggal 1
Juni juga diperingati oleh berbagai kalangan Baca selebihnya »

separuh waktu, istriku.

Oeh: Deepee

Kita masih disini
Mendekap dingin dan menatap rembulan yang sama.

Setengah putaran waktu habis kita teguk
Kau masih menuntunku
Meski lelah tubuhmu, ku tahu.

Cahaya perak menampakkan putih helai rambutmu
Duka dan bahagia. airmata dan cinta, jelas terlukis disitu.

Bahumu tak lagi setegar dulu
Namun masih kau tampung tangisku
Meski dapat kubaca jelas perih dimatamu.

Kelak, sajak-sajak kasihmu akan membeku di dinding batu
Dibawah senja yang selalu kau suka
Diantara harum kamboja.

Kau masih disini, bersamaku,
mendekap dingin yang segera hilang
Menatap rembulan yang akan pulang
Menyambut pagi ke-sekian
Mengucap doa kesejahteraan, lalu
rebah diatas rerumputan basah
pasrah mendekap sisa usia.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/29/03205120/naskah.kuno.perlu.diselamatkan

Naskah Kuno Perlu Diselamatkan!
KOMPAS/HELENA F NABABAN

Jumat, 29 Mei 2009 | 03:20 WIB

Ingin mencari barang-barang yang hilang dan ingin mengetahui baik-buruknya hari, tanda-tanda dan lainnya? Lihatlah naskah kuno Primbon yang dipajang di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jakarta.

Tetapi, untuk membacanya, pengunjung harus dibantu oleh seorang peneliti dan pengkaji naskah, guna mengetahui isi dari naskah tersebut karena naskah itu masih menggunakan huruf-huruf kuno yang tidak semua orang mengerti artinya. Baca selebihnya »

“Revolusi” Wayang Mbah Ledjar

oleh Zeynita Gibbons

Den Haag (ANTARA News) – Di pojok pintu paviliun Pasar Malam Tong Tong, Den Haag, Negeri Belanda, pelopor wayang kancil asal Yogyakarta, Ki Ledjar Soebroto (72) terlihat asyik melukis. Baca selebihnya »

Kartini dan Multatuli (2 Habis)

Oleh Wanhar  dimuat di harian Monitor Depok, edisi Kamis, 23 April 2009

Aku tercengang. Sewaktu menghimpun data untuk tulisan ini, ada orang yang meragukan surat-surat Kartini. Menurut dia, Door Duisternis Tot Licht hanyalah rekayasa pemerintahan Hindia Belanda untuk memuluskan politik etis. Simak suara-suara miring berikut ini;

“Coba pikirkan. JH Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Dialah yang menerbitkan buku Door Duisternis Tot Licht tahun 1911. Dia mengaku sahabat pena Kartini. Buku berisi kumpulan surat dari Kartini.”

“Surat-surat Kartini itu bisa jadi rekayasa! Perlu diketahui, hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat itu tak diketahui keberadaannya. Jangankan menemukan surat, jejak keturunan JH Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.”

“Apalagi, buku itu terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia. Abendanon selaku pejabat teras, tentu adalah orang yang punya kepentingan.” Politik Etis (Etische Politiek) atau lebih dikenal dengan politik balas budi mulai berlaku setelah pidato Ratu Wilhelmina di Staten General tahun 1901. Jabaran Politik Etis itu oleh Van Deventer “Bapak Pergerakan Etis” diterjemahkan dalam wujud irigasi, edukasi dan emigrasi. Pelaksana Politik Etis di bidang pendidikan adalah J.H. Abendanon, yang diangkat sebagai Menteri [Direktur] Pendidikan di Hindia Timur pada tahun 1900. Kaum Kapitalis dan industrialisasi menyambut dengan baik, asumsinya tenaga kerja yang pandai baca tulis akan lebih menguntungkan mereka. Kontroversi dalam sejarah adalah hal yang lumrah. Terlepas dari pemikiran kritis di atas, Kartini merupakan tipikal remaja yang gemar membaca. Salah satu buku yang sangat mempengaruhinya adalah Max Havelaar karya Multatuli—nama pena Eduard Douwes Dekker. Multatuli berasal dari bahasa Latin yang artinya aku sudah menderita cukup banyak atau aku sudah banyak menderita. Aku di sini dapat rakyat yang terjajah.

Buku itulah yang membuatnya menyadari betapa tertinggal wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita Eropa. Sejak saat itu, dia bertekad untuk memajukan wanita di negeri jajahan. Pendidikan adalah kunci. Dia mengawali dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan cara menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Bahkan dia berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda agar bisa menjadi pendidik yang lebih baik. Dengan segenap upaya Kartini berhasil memperoleh beasiswa dari Pemerintah Belanda. Hanya saja, hasrat itu kandas karena orang tuanya memaksanya menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang. Semangatnya tak pudar, setelah menikah, di Rembang dia kembali mendirikan sekolah. Apa yang dilakukannya kemudian diikuti oleh wanita-wanita lain dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Mendalami Habis Gelap Terbitlah Terang, menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Dia seperti gadis peragu, cenderung tidak konsisten dan mengkhianati perjuangannya sendiri dengan menerima poligami.

Sang perangkum, Armijn Pane mengerucutkan surat-surat Kartini dalam Door Duisternis Tot Licht menjadi 87 surat yang diurai dalam lima bab. Penyajiannya lebih mirip roman. Alasan tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada di Door Duisternis Tot Licht, karena pada beberapa surat terdapat kemiripan dan agar enak dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan negeri jajahan. Kartini sangat mencintai sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara yang tergolong maju hingga menyekolahkannya di Europese Lagere School (ELS)–setingkat sekolah dasar meski hanya sampai umur 12 tahun. Ternyata cinta kasih sang ayah juga yang membendung cita-citanya. Belakangan ayahnya mengizinkan Kartini sekolah guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud, sahabat-sahabat penanya kecewa. Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin,” tulisnya. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini adiknya untuk belajar di Betawi. Menjelang pernikahan, penilaian Kartini soal adat Jawa berubah dan lebih toleran. Dia berpikir pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Apalagi sang suami yang dinikahinya tanggal 12 November 1903 mendukung keinginannya.

Kartini wafat 13 September 1904 setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Surat terakhirnya ditujukan pada Nyonya Abendanon, 7 September 1904. Kumpulan surat-surat Kartini cuku dahsyat. Sulastin Sutrisno mahasiswa sastra Universitas Leiden, Belanda, tahun 1979 menerjemahkan versi lengkap Door Duisternis Tot Licht ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut dia, berdasarkan bahasa Belanda, judul aslinya adalah Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa. Joost Coté juga menerjemahkan surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris dengan judul Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904 yang memuat 108 surat-surat Kartini. Seniman Lekra yang juga redaktur budaya harian Bintang Timur, Pramoedya Ananta Toer juga menulis roman Panggil Aku Kartini Saja. Rujukan datanya dari buku-buku yang telah ada.

Terang sudah. Alangkah dangkal jika mengenang Kartini hanya dengan mengenakan kebaya. Aku lantas teringat pernyataan seorang aktifis perempuan dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Ulfa Ilyas; “Kapitalisme telah melemparkan kaum perempuan, menjadi buruh-buruh upahan, menjadi bagian dari baling-baling industrialisasi, bersanding dengan mesin-mesin pabrik. Perempuan-perempuan dari golongan Rakyat miskin itu bagi kapitalisme adalah tenaga kerja yang melimpah dengan upah yang murah.” “Dari desa-desa, kaum perempuan miskin itu ditarik ke kota menjadi buruh-buruh pabrik, penjaga-penjaga toko, pelayan-pelayan restoran, pembantu orang-orang kaya, dan bahkan, karena kerja-kerja yang bermartabat tidak mereka dapatkan lagi, mereka bekerja menjadi pelacur-pelacur.” “Sedangkan perempuan-perempuan yang tidak tertampung untuk bekerja di Indonesia yang semakin sempit lapangan pekerjaanya, dibuang ke luar negeri, menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).” “Di luar negeri, karena hanya tenaga yang mereka miliki, dengan sedikit ketrampilan untuk kerja-kerja rumah tangga, sering kali diperlakukan sewenang-wenang, dilucuti hak-hak sebagai manusia.” “Tidak ada yang bisa mengingkari lagi, sudah beribu-ribu TKW di Indonesia yang diperlakukan sewenang-wenang. Dari diperkosa, disiram dengan air panas, disetrika punggungnya, dipukul, bahkan ada yang sampai gila. Apakah kaum perempuan memang diciptakan untuk diperlakukan seperti itu!?”

Kartini dan Multatuli (1)

Oleh: Wenri Wanhar

Dimuat Pertama kali di Harian Monitor Depok 22 April 2009

“Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jendral mitos-mitos tentangnya.” –Pramoedya Ananta Toer dalam roman Panggil Aku Kartini Saja.

Setiap tanggal 21 April, bangsa ini menggelar ritual tahunan memperingati Hari Kartini. Kemarin pagi, sewaktu sarapan, anak pemilik warung nasi uduk dekat rumah kontrakanku siap berangkat ke sekolah dibalut pakaian kebaya. “Di suruh bu guru om. Kan sekarang Hari Kartini,” selorohnya seraya berlalu setelah mencium tangan ibunya. Setiap pagi, itupun kalau bangun pagi, aku kerap mendapati gadis kecil itu berpakaian merah putih, rambutnya sedang disisir oleh ibu warung.

Kembali ke kontrakan, perempuan-perempuan berkebaya terlihat anggun membawakan acara-acara di televisi. Wawancara dengan kaum hawa, mulai dari yang terpinggirkan hingga yang menonjol disajikan silih berganti. Perhatian ekstra buat kaum perempuan. Ketika memacu si kuda besi, di beberapa Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang kulewati terlihat menggelar lomba busana busana adat. Lagu Ibu Kita Kartini, buah karya WR Supratman-pun berkumandang. Tidak hanya itu, di beberapa perkantoran ternyata juga mewajibkan para pekerja perempuan mengenakan kebaya. Katanya untuk mengenang Raden Ajeng Kartini—pahlawan emansipasi wanita.

Lamunanku melanglang buana kian kemarin. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Selain lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan meninggal tanggal 17 September 1904 di usia 25 sewaktu melahirkan putra pertamanya, apa lagi yang orang banyak ketahui tentang Kartini? Suatu hari aku pernah berbincang panjang lebar dengan seorang aktifis perempuan. Dia menguarai sedikit banyak tentang Kartini.

“Nama Kartini mulai dikenal luas ketika JH Abendanon, sahabat pena Kartini menyusun kumpulan surat Kartini dan menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Licht tahun 1911 sewaktu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda,” katanya. Surat-surat itu menggambarkan pemikiran Kartini. Saking ‘hebat’nya, buku itu sampai dicetak sebanyak lima kali, bahkan Agnes L Symmers menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Masih kata kawan tadi, 1922 Balai Pustaka menyajikan Door Duisternis Tot Licht dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Salah seorang penerjemahnya adalah Armijn Pane, sastrawan pelopor Pujangga Baru. “Buku ini dicetak sebanyak sebelas kali dan tahun 1938, Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dengan format berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda,” paparnya.

Aku kembali bertanya-tanya, apakah para siswa dan perempuan kantoran yang mengenakan kebaya, kemarin pernah membaca buku itu? Survey kecil-kecilan kulakukan dengan menjajaki pendapat mereka.

Alhasil, banyak yang mengaku pernah mendengar tentang buku Habis Gelap Terbitlah Terang tapi sama sekali tidak pernah melihat apalagi membacanya. Bukankah peringatan Hari Kartini akan lebih bermakna bila mengetahui buah pikirannya, mengingat perempuan yang diperistri oleh Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional bukan karena angkat senjata berjuang melawan Belanda, melainkan karena pemikirannya dalam buku itu. Bagaimana sebetulnya isi buku itu? Bab pertamanya bertajuk Dirudung cita- cita, dihambar kasih sayang tentang keterbelakangan perempuan Jawa dan harapannya menjadi seperti perempuan Eropa. Dia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat; tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agama. Dia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Menurut dia, dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” begitu tulisnya. Tidak sampai di situ, Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Dengan kenyataan itu, dia menilai lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan harus siap untuk dimadu. Gugatan dan kekritisan Kartini sebagai perempuan Jawa di bab pertama cukup menyeruak. Pada bab selanjutnya, dibahas pemikiran lulusan Europese Lagere School (ELS)–setingkat sekolah dasar tentang kendala yang harus dihadapi perempuan Jawa dalam menggapai cita-cita layaknya perempuan Eropa. Demikian kutipan suratnya kepada Nn. Zeehandelaar tertanggal 6 Nopember 1899; …Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau yang serupa itu. Bukan. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luas sekelilingnya tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana luasnya rumah dan pekarangan kami itu bila senantiasa harus tinggal di sana sesak juga rasanya. Teringat aku betapa aku oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga lalu menghempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu dan kepada dinding batu bengis itu. Arah kemana juga aku pergi, setiap kali putus juga jalanku oleh tembok batu dan pintu terkunci.

oleh WENRI WANHAR ***Dimuat di harian Monitor Depok, edisi Rabu, 22 April 2009