Oleh Wanhar dimuat di harian Monitor Depok, edisi Kamis, 23 April 2009
Aku tercengang. Sewaktu menghimpun data untuk tulisan ini, ada orang yang meragukan surat-surat Kartini. Menurut dia, Door Duisternis Tot Licht hanyalah rekayasa pemerintahan Hindia Belanda untuk memuluskan politik etis. Simak suara-suara miring berikut ini;
“Coba pikirkan. JH Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Dialah yang menerbitkan buku Door Duisternis Tot Licht tahun 1911. Dia mengaku sahabat pena Kartini. Buku berisi kumpulan surat dari Kartini.”
“Surat-surat Kartini itu bisa jadi rekayasa! Perlu diketahui, hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat itu tak diketahui keberadaannya. Jangankan menemukan surat, jejak keturunan JH Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.”
“Apalagi, buku itu terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia. Abendanon selaku pejabat teras, tentu adalah orang yang punya kepentingan.” Politik Etis (Etische Politiek) atau lebih dikenal dengan politik balas budi mulai berlaku setelah pidato Ratu Wilhelmina di Staten General tahun 1901. Jabaran Politik Etis itu oleh Van Deventer “Bapak Pergerakan Etis” diterjemahkan dalam wujud irigasi, edukasi dan emigrasi. Pelaksana Politik Etis di bidang pendidikan adalah J.H. Abendanon, yang diangkat sebagai Menteri [Direktur] Pendidikan di Hindia Timur pada tahun 1900. Kaum Kapitalis dan industrialisasi menyambut dengan baik, asumsinya tenaga kerja yang pandai baca tulis akan lebih menguntungkan mereka. Kontroversi dalam sejarah adalah hal yang lumrah. Terlepas dari pemikiran kritis di atas, Kartini merupakan tipikal remaja yang gemar membaca. Salah satu buku yang sangat mempengaruhinya adalah Max Havelaar karya Multatuli—nama pena Eduard Douwes Dekker. Multatuli berasal dari bahasa Latin yang artinya aku sudah menderita cukup banyak atau aku sudah banyak menderita. Aku di sini dapat rakyat yang terjajah.
Buku itulah yang membuatnya menyadari betapa tertinggal wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita Eropa. Sejak saat itu, dia bertekad untuk memajukan wanita di negeri jajahan. Pendidikan adalah kunci. Dia mengawali dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan cara menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Bahkan dia berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda agar bisa menjadi pendidik yang lebih baik. Dengan segenap upaya Kartini berhasil memperoleh beasiswa dari Pemerintah Belanda. Hanya saja, hasrat itu kandas karena orang tuanya memaksanya menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang. Semangatnya tak pudar, setelah menikah, di Rembang dia kembali mendirikan sekolah. Apa yang dilakukannya kemudian diikuti oleh wanita-wanita lain dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.
Mendalami Habis Gelap Terbitlah Terang, menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Dia seperti gadis peragu, cenderung tidak konsisten dan mengkhianati perjuangannya sendiri dengan menerima poligami.
Sang perangkum, Armijn Pane mengerucutkan surat-surat Kartini dalam Door Duisternis Tot Licht menjadi 87 surat yang diurai dalam lima bab. Penyajiannya lebih mirip roman. Alasan tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada di Door Duisternis Tot Licht, karena pada beberapa surat terdapat kemiripan dan agar enak dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan negeri jajahan. Kartini sangat mencintai sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara yang tergolong maju hingga menyekolahkannya di Europese Lagere School (ELS)–setingkat sekolah dasar meski hanya sampai umur 12 tahun. Ternyata cinta kasih sang ayah juga yang membendung cita-citanya. Belakangan ayahnya mengizinkan Kartini sekolah guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud, sahabat-sahabat penanya kecewa. Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin,” tulisnya. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini adiknya untuk belajar di Betawi. Menjelang pernikahan, penilaian Kartini soal adat Jawa berubah dan lebih toleran. Dia berpikir pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Apalagi sang suami yang dinikahinya tanggal 12 November 1903 mendukung keinginannya.
Kartini wafat 13 September 1904 setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Surat terakhirnya ditujukan pada Nyonya Abendanon, 7 September 1904. Kumpulan surat-surat Kartini cuku dahsyat. Sulastin Sutrisno mahasiswa sastra Universitas Leiden, Belanda, tahun 1979 menerjemahkan versi lengkap Door Duisternis Tot Licht ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut dia, berdasarkan bahasa Belanda, judul aslinya adalah Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa. Joost Coté juga menerjemahkan surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris dengan judul Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900- 1904 yang memuat 108 surat-surat Kartini. Seniman Lekra yang juga redaktur budaya harian Bintang Timur, Pramoedya Ananta Toer juga menulis roman Panggil Aku Kartini Saja. Rujukan datanya dari buku-buku yang telah ada.
Terang sudah. Alangkah dangkal jika mengenang Kartini hanya dengan mengenakan kebaya. Aku lantas teringat pernyataan seorang aktifis perempuan dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Ulfa Ilyas; “Kapitalisme telah melemparkan kaum perempuan, menjadi buruh-buruh upahan, menjadi bagian dari baling-baling industrialisasi, bersanding dengan mesin-mesin pabrik. Perempuan-perempuan dari golongan Rakyat miskin itu bagi kapitalisme adalah tenaga kerja yang melimpah dengan upah yang murah.” “Dari desa-desa, kaum perempuan miskin itu ditarik ke kota menjadi buruh-buruh pabrik, penjaga-penjaga toko, pelayan-pelayan restoran, pembantu orang-orang kaya, dan bahkan, karena kerja-kerja yang bermartabat tidak mereka dapatkan lagi, mereka bekerja menjadi pelacur-pelacur.” “Sedangkan perempuan-perempuan yang tidak tertampung untuk bekerja di Indonesia yang semakin sempit lapangan pekerjaanya, dibuang ke luar negeri, menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).” “Di luar negeri, karena hanya tenaga yang mereka miliki, dengan sedikit ketrampilan untuk kerja-kerja rumah tangga, sering kali diperlakukan sewenang-wenang, dilucuti hak-hak sebagai manusia.” “Tidak ada yang bisa mengingkari lagi, sudah beribu-ribu TKW di Indonesia yang diperlakukan sewenang-wenang. Dari diperkosa, disiram dengan air panas, disetrika punggungnya, dipukul, bahkan ada yang sampai gila. Apakah kaum perempuan memang diciptakan untuk diperlakukan seperti itu!?”