Syekh Abd Wahab Rokan, Pemegang Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah
Oleh: Rudy Harahap
Kendati telah wafat sejak sekitar 77 tahun silam, keberadaannya terasa di Kampung Babussalam, Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara. Peziarah mengalir ke makamnya di kampung yang didirikannya. Syekh Abdul Wahab Rokan memang dikenal sebagai ulama ternama di Sumaera.
Lahir pada 19 Rabiul Akhir 1230 H (28 September 1811) di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Negeri Tinggi, Rokan Tengah, Kab. Rokan hulu, Riau, Wahab tumbuh di lingkungan keluarga yang menjunjung agamanya. Nenek buyutnya, H Abdullah Tembusai, dikenal sebagai alim ulama besar yang disegani.
Salah seorang putra Abdullah Tembusai, bernama M Yasin menikah dengan Intan. Buah perkawinan itu melahirkan di antaranya Abdul Manap. Putra tertuanya ini, kemudian menikah dan melahirkan Syekh Wahab Rokan.
Dengan titisan darah demikian, Wahab sejak kecil terdidik, terutama untuk pelajaran agama. Demi menghapal AlQuran, Wahab kecil tak jarang bermalam, di rumah gurunya. Ia pun patuh pada guru, bahkan kerap mencucikan pakaian orang yang mendidiknya itu.
Keistimewaan telah tampak sejak Wahab masih bocah. Suatu ketika, saat orang terlelap pada dinihari, Wahab masih menekuni AlQuran. Mendadak muncul seorang tua mengajarinya membaca aLQuran. Setelah rampung satu khatam, orang tua itu menghilang.
Kesalihannya ini tak jarang mengalami godaan. Saat ia melanjutkan pendidikan di Tembusai, seorang wanita menggodanya, bahkan mengunci pintu tempat Wahab berada. Wahab terus melantunkan doa sehingga terlepas dari jebakan wanita yang tergila-gila padanya. Begitu pun, suatu ketika saat mandi di sungai, seorang gadis melarikan sarungnya.
Godaan itu tak membuat imannya meleleh. Bahkan, ia kian kukuh mendalami ilmu agama. Setelah dari Tambusai, ia pun ke Malaysia, untuk mendalami ilmu agama kepada Syekh H M Yusuf asal Minangkabau. Wahab yang tumbuh menjadi pemuda berdagang untuk menopang kehidupannya. Menariknya, berkat kesalihannya, ia menyuruh pembeli menimbang sendiri barang yang dibeli. Ini demi menghindarkan kecurangan.
Melanjutkan pendidikan ke MAkkah, ia belajar kepada beberapa guru, di antaranya Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafii), Syekh Zainuddin Rawa. Terakhir, ia mendalami ilmu tarEkat kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di puncak Jabal Abi Kubis. Sulaiman Zuhdi dikenal sebagai penganut tarEkat Naqsyabandiah.
Menyimak ketekunan muridnya, suatu ketika Sulaiman Zuhdi, resmi mengangkat Wahab sebagai khalifah besar. Penabalan itu diiringi dengan bai’ah dan pemberian silsilah tarekat Naqsyabandiyah yang berasal dari Nabi Muhammad SAW hingga kepada Sulaiman Zuhdi yang kemudian diteruskan kepada Wahab. Ijazahnya ditandai dengan dua cap. Ia pun mendapat gelar Al Khalidi Naqsyabandi.
Setelah kurang lebih enam tahun di MAkkah, ia kembali ke Riau. Di sana, ia yang saat itu berusia 58, mendirikan Kampung Mesjid. Dari sana, ia mengembangkan syiar agama dan tarEkat yang dianutnya, hingga Sumatra Utara dan Malaysia. Namanya pun semerbak. Raja di berbagai kerajaan di Riau dan Sumatra Utara mengundangnya.
Suatu ketika, Sultan Musa Al-Muazzamsyah dari Kerajaan Langkat, gundah. Putranya sakit parah dan akhirnya wafat. Rasa kehilangan ini tak terperikan. Syekh HM Nur yang — sahabat karib Wahab saat di MAkkah — menjadi pemuka agama di kerajaan, menyarankan agar Sultan bersuluk di bawah bimbingan Wahab. Sultan menyetujui dan mengundang Wahab.
Wahab pun datang ke Langkat. Ia mengajarkan tarEkat Naqsyahbandi dan bersuluk kepada Sultan. Setelah berulang bersuluk, Sultan Musa — yang belakangan melepaskan tahtanya dan memilih menekuni agama — memenuhi saran Wahab, menunaikan ibadah haji, sekaligus bersuluk kepada Sulaiman Zuhdi di Jabal Kubis.
Berkat kekariban hubungan guru-murid, Sultan Musa menyerahkan sebidang tanah di tepi Sungai Batang Serangan, sekitar 1 km dari Tanjung Pura. Sultan berharap gurunya dapat mengembangkan syiar agama dari tanah pemberiannya. Wahab menyetujui dan menamakan kampung itu Babussalam (pintu keselamatan). Maka pada 15 Syawal 1300 H, ia bersama ratusan pengikutnya, menetap di sana.
Babussalam berkembang menjadi kampung dengan otonomi khusus. Menjadi basis pengembangan tarEkat Naqsyahbandiyah di Sumatra Utara, Wahab membentuk ‘pemerintahan’ sendiri di kampung itu. Perangkatnya antara lain dengan membuat Lembaga Permusyawaratan Rakyat (Babul Funun).
Hingga kini, kampung itu terjaga sebagai pusat pengembangan tarekat Naqsyahbandiyah. Tetap mendapatkan perlakuan khusus dari Pemda setempat, aktivitas sehari-hari — ditandai dengan kegiatan suluk setiap hari — dipimpin khalifah. Saat ini khalifah kesepuluh Syekh H Hasyim yang memimpin.
Kendati terjalin erat, hubungan Wahab dan Sultan, tak berarti selalu harmonis. Bahkan antara keduanya sempat renggang, saat Wahab difitnah membuat uang palsu. Akibatnya, Sultan memerintahkan penggeledahan ke rumah Wahab. Kendati tak terbukti, bahkan saling memaafkan, Wahab seusai peristiwa itu pindah ke Malaysia. Kepindahannya ini kabarnya menyebabkan sumur minyak di Pangkalan Brandan surut penghasilannya.
Begitu pun, suatu kali penjajah Belanda ‘menekan’ Sultan. Dalihnya, berbekal potret Wahab, ditengarai Tuan Guru Babussalam — demikian panggilan kehormatannya — turut bertempur membantu pejuang Aceh melawan Belanda. Padahal, pada saat bersamaan, pengikutnya menegaskan Tuan Guru berdzikir di kamarnya.
Kembali ke Babussalam, setelah terharu menyaksikan kampung yang dibangunnya menyepi, Tuan Guru menetap di Babussalam. Bersama pengikutnya, ia kembali membangun Babussalam. Tak sekadar berkembang pesat, Tuan Guru bersama Babussalam tumbuh disegani. Tak ayal, Belanda berusaha menjinakkannya.
Maka pada 1 Jumadil Akhir 1241 H, Asisten Residen Van Aken, menyematkan bintang kehormatan kepadanya. Kendati demikian, tak berarti Tuan Guru, terpedaya. Bahkan, di saat prosesi penyematan, Tuan Guru dalam sambutan meminta Van Aken menyampaikan kepada Raja Belanda untuk masuk Islam. Menilai pemberian bintang itu sindiran, ia meminta pengikutnya lebih giat. Bintang kehormatan itu pun kemudian diserahkan kepada Sultan Langkat.
Kendati dikenal sebagai pemuka agama, tak berarti Tuan Guru tak memiliki kepedulian pada politik. Ia mengutus anaknya untuk menemui HOS Cokroaminoto pada 1913. Tujuannya untuk membicarakan pembukaan cabang Sarekat Islam di Babussalam. Tak lama kemudian, SI pun berdiri di kampung yang dipimpinnya.
Tuan Guru wafat di usia 115, pada 21 Jumadil Awal 1345 H (27 Desember 1926), meninggalkan 4 istri, 26 anak, dan puluhan cucu. Hingga kini, setiap peringatan hari wafat (haul), dirayakan besar-besaran. Ratusan pengikutnya yang memegang tarekat Naqsyahbandiah dari berbagai kota di Sumatra hingga Malaysia, dan Thailand hadir.
Silaturahmi di Negeri Seribuk Suluk
Para zurriyat, khalifah dan jamaah Babussalam terserak di dalam maupun luar negeri. Akibatnya silaturahmi menjadi longgar. Demi mengikat silahturahmi Ikatan Keluarga Babussalam Langkat menyelenggarakan silaturrahmi nasional (silatnas).
Berlangsung mulai 18 hingga 20 Oktober mendatang, silatnas diadakan di kampung kelahiran Syekh Abd Wahab Rokan, di Rantau Binuang Sakti yang dijuluki ‘Negeri Seribu Suluk’. Acaranya selain tabliqh akbar, haflah Alquran, juga istighasah Tareqat Naqsyabandiyah. Di hari terakhir (20/10), silatnas ditutup dengan ziarah ke makam ibu dan Syekh Abd Wahad dan ke makan Syekh Zainuddin. Kemudian diikuti ramah tamah sekitar seribu peserta silatnas.
DIarsipkan di bawah: Artikel















Ass Bang rudi..Mg sht wlf..
salam perkenalan….
Saya sering baca tulisan abng ni…bil khusus mengenai Syekh Abdul Wahab Rokan..,O ya bng, saya ada nulis tentang Syekh Abdul Wahab Rokan 165 halaman, sekarang saya lagi nulis tentang Syekh Muim al-Wahhab (Tuan Guru 7 Besilam) + silsilah lengkap Syekh Abdul Wahab Rokan.
di bawah ini adalah petikan dari sejarah pendidikan/guru2 Syekh Abdul Wahab Rokan yang lengkap, berdasarkan penemuan terkini saya.
Saya berharap dapat belajar dari abng n berkirim email
Pendidikan Syekh Abdul Wahab Rokan
Basis atau dasar pendidikan bagi seorang tokoh yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan dakwah tentu sangat penting, hal itu dikarenakan akan berkaitan dengan kebijakan yang akan menjadi landasan berfikir dan bertindak. Sosok tokoh yang mempunyai latar belakang pendidikan dan pengalaman yang tinggi dan luas tentunya akan mampu melahirkan kader-kader yang tangguh.
Permulaan berguru Syekh Abdul Wahab Rokan adalah pada Tuan Baqi di tempat kelahirannya, kemudian belajar al-Qurân kepada H.M. Sholeh, seorang alim besar asal Minangkabau sampai tamat. Kemudian Syekh Abdul Wahab Rokan melanjutkan studinya ke Tembusai dan berguru dengan Maulana Syekh Abdullah Halim dan Syekh Muhammad Shaleh Tembusai. Dari keduanya dipelajarinya berbagai ilmu dalam bahasa arab, antara lain kitab-kitab Fathul Qorîb, Minhâju al-Thâlibîn, Iqna’ (Fiqih), Tafsîr Jamâl, Nahwu, Sharaf, Balâghah, Manthiq, tauhîd, Arûdh dan lain-lain. Karena kepintarannya dalam menyerap ilmu-ilmu dari gurunya dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut, digelarlah ia dengan “Faqih Muhammad”, artinya: orang yang ahli dalam ilmu Fiqih.
Setelah menamatkan studinya dengan dua ulama terkemuka tersebut, pada tahun (1846 M). Abu Qosim (nama kecil Syekh Abdul Wahab Rokan) berangkat ke Semenanjung Melayu untuk menambah ilmu pengetahuan dan tinggal di Sungai Ujung (Simunjung), Negeri Sembilan. Di tempat ini ia belajar kepada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau, seorang ulama terkemuka yang berasal dari minangkabau. Syekh H. Muhammad Yusuf kemudian diangkat sebagai mufti di Kerajaan Langkat dan digelari “Tuk Ongku”. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari Faqih Muhammad berdagang di kota Malaka.
Setelah dua tahun di Malaka ia meneruskan pelajaran ke Mekkah. (1848 M). Selama enam tahun di Mekkah ia belajar kepada ulama-ulama terkenal seperti Saidi Syarif Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafi’i), seorang ulama terkenal berasal dari Turki. Kemudian ia juga berguru dengan Syekh Sayyid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan ulama bangsa Arab lainnya. Kepada ulama-ulama Jawi Atau Asia ia belajar kepada Syekh Muhammad Yunus bin Abdurrahman Batubara Asahan, Syekh H. Zainuddin Rawa, Syekh Ruknuddin Rawa, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani, Syekh Abdul Qodir bin Abdurrahman Kutan al-Kalantani, Syekh Wan Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani dan lain-lain. Khusus tentang tarekat Naqsyabandiyah ia belajar kepada Syekh Sulaiman Zuhdi. Ia mendapat surat ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”, dan diberi nama Syekh Haji Abdul Wahab Rokan Jawi al-khalidi an-Naqsyabandi. Kemudian, Syekh Sulaiman Zuhdi menyuruh Haji Abdul Wahab Rokan kembali ke tanah airnya untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiah.
Di namakan Syekh Abdul Wahab dengan “Rokan”, karena ia berasal dari daerah Rokan, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Di namakan dengan “al-Khalidi”, karena ia menganut tarekat periode Syekh Khalid sampai pada masanya. Dan dinamakan ia dengan “an-Naqsyabandi”, karena ia menganut tarekat yang ajaran dasarnya berasal dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi.
Wass
Zikmal Fuad, Putra Besilam Langkat
Tulisan ini cukup baik, komentar ini saya lengkapi dengan data yang lebih lengkap mengenai pendidikan Syekh Abdul Wahab Rokan
ass
bang klo boleh saya mendalami tentang syeh abd wahab rokan, mohon abg kirem e mail akhi zikmal fuad, thank
by. mukhis aceh pidie sigli
Salam….
Saat ini ramai yang mengkaji ketokohan Syekh Abdul Wahab Rokan lagi, khasnya di Malaysia dan Indonesia dan penelitian terus berlangsung terutama menelusuri silsilah beliau yang terputus sehingga Bendahara Gombak seorang pembesar di Kampar Riau.
assalamualaikum…
saya hamba yg daif, miskin, fakir lagi hina .. ingin tuan hamba memberikan tunjuk ajar..
tuan guru saya telah pulang ke rahmatullah .. tuan guru syeikh mat qari naqsyahbandiah yg berasal dari kuala linggi melaka.. dan guru sekarang tuan guru syeikh hamzah dari klang.. kalau ada apa2 bahan rujukan kalau tak keberatan boleh kiranya dikongsi bersama…
Salam buat semua,
Ana tertarik dgn tulisan anta berkenaan dengan S.Abd Wahab Rokan seorang Mursyid Tarekat Naksyabandi di Sumatra. Almarhumah bonda mertua ana berasal dari Kecamatan Kubu di Rokan Hilir, suku kaum Kubu,datang ke Malaya sebelum Malaysia Merdeka pada tahun 1957. Ana tidak banyak yang tahu berkenaan dengan suku kaum Kubu ini, tetapi pertuturannya mirip seperti orang Minang atau Rawa dan mirip juga bahasa yang di gunakan di negeri Sembilan. Ana tidak banyak mengetahui salasilah beliau, kerana setelah menikahi anak beliau dalam masa setahun, beliau telah wafat.
Apa yang ana faham suku kaum Isteri ana ini sering ke Babusalam unuk bersuluk.
Dari mamak nya kami dapat maklumat bahawa nenek nya bernama Lebai Kassim berasal dari Kg Tengah, Kuala Trengganu, berdagang hingga ke Daerah Kubu dan bernikah di sana.
Apakah S.Abdul Wahab Rokan ini dari suku kaum Kubu dari Rokan Hilir (bukan Kubu di Jambi).
Ana dengan sedaya upaya untuk mencari salasilah Isteri ana di daerah KUBU, Rokan.
Bolih kalau tidak keberatan saudara memberi keempat empat nama isteri Syeh A.Wahab Rokan, untuk ana buat rujukan untuk mencari salasilah ini.
Mohon bantuan.
Wassalam.
Salam hangat buat bapak Ibnu Hasyim al Yahya
Berikut adalah tulisan tentang riwayat hidup Syekh Abdul Wahab Rokan, musah2an dapat membantu bapak dalam mencari/melacak salasilah yang terputus. Selanjutnya bolh bertukar info dengan saya (z1kmal@yahoo.co.id).
Sekedar untuk diketahui bahwa apa yang bapak katakan tentang kemiripan bahasa Minang, Kubu dan Rawa benar adanya. Kalau keluarga istri bapak sering datang ke Besilam itu berarti ada pertalian/hubungan baik secara kekekluargaan ataupun seperguruan yang erat. Perkara2 lain boleh bapak kirik ke email saya di atas…
BIOGRAFI SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN
Riwayat Hidup dan Pendidikan Syekh Abdul Wahab Rokan
Nama lengkap Syekh Abdul Wahab Rokan adalah Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi, terkenal dengan sebutan “Tuan Guru Babussalam (Besilam)”, Faqih Muhammad gelarnya, dan Abu Qosim demikian nama kecilnya. Beliau dilahirkan pada tanggal 19 Rabi’ul Akhir 1230 H. bertepatan dengan 28 September 1811 M. di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Sumatera Timur, (Sekarang Propinsi Riau). Dan wafat pada tanggal 21 Jumadil awal 1345 H. bertepatan dengan 27 desember 1926 M. di Babussalam, Tanjungpura, Sumatera Timur (Sekarang Sumatera Utara) .
Ayahnya bernama Abdul Manaf bin M. Yasin bin Maulana Tuanku Haji Abdullah Tembusai, keturunan dari raja-raja Siak. Sedangkan ibunya bernama Arba’iah binti Datuk Dagi binti Tengku Perdana Menteri bin Sultan Ibrahim mempunyai pertalian darah dengan Sultan Langkat.
Ketika wafatnya, Haji Abdullah Tembusai meninggalkan 670 anak dan cucu. Salah seorang putra beliau bernama M. Yasin menikah dengan seorang wanita dari suku Batu Hampar, dari hasil pernikahan ini kedua sepasang suami istri ini melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Abdul Manaf, yaitu ayah kandung Syekh Abdul Wahab Rokan.
Dengan adanya gambaran tersebut di atas akan jelaslah bagi kita, bahwa Syekh Abdul Wahab Rokan ini adalah keturunan dari bangsawan, dan kebangsawannya itu akan nampak terlihat dengan jelas di dalam kiprah beliau sebagai pemimpin dan sekaligus seorang ulama
Pendidikan Syekh Abdul Wahab Rokan
Basis atau dasar pendidikan bagi seorang tokoh yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan dakwah tentu sangat penting, hal itu dikarenakan akan berkaitan dengan kebijakan yang akan menjadi landasan berfikir dan bertindak. Sosok tokoh yang mempunyai latar belakang pendidikan dan pengalaman yang tinggi dan luas tentunya akan mampu melahirkan kader-kader yang tangguh.
Permulaan berguru Syekh Abdul Wahab Rokan adalah pada Tuan Baqi di tempat kelahirannya, kemudian belajar al-Qurân kepada H.M. Sholeh, seorang alim besar asal Minangkabau sampai tamat. Kemudian Syekh Abdul Wahab Rokan melanjutkan studinya ke Tembusai dan berguru dengan Maulana Syekh Abdullah Halim dan Syekh Muhammad Shaleh Tembusai. Dari keduanya dipelajarinya berbagai ilmu dalam bahasa arab, antara lain kitab-kitab Fathul Qorîb, Minhâju al-Thâlibîn, Iqna’ (Fiqih), Tafsîr Jamâl, Nahwu, Sharaf, Balâghah, Manthiq, tauhîd, Arûdh dan lain-lain. Karena kepintarannya dalam menyerap ilmu-ilmu dari gurunya dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut, digelarlah ia dengan “Faqih Muhammad”, artinya: orang yang ahli dalam ilmu Fiqih.
Setelah menamatkan studinya dengan dua ulama terkemuka tersebut, pada tahun (1846 M). Abu Qosim (nama kecil Syekh Abdul Wahab Rokan) berangkat ke Semenanjung Melayu untuk menambah ilmu pengetahuan dan tinggal di Sungai Ujung (Simunjung), Negeri Sembilan. Di tempat ini ia belajar kepada Syekh Muhammad Yusuf Minangkabau, seorang ulama terkemuka yang berasal dari minangkabau. Syekh H. Muhammad Yusuf kemudian diangkat sebagai mufti di Kerajaan Langkat dan digelari “Tuk Ongku”. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari Faqih Muhammad berdagang di kota Malaka.
Setelah dua tahun di Malaka ia meneruskan pelajaran ke Mekkah. (1848 M). Selama enam tahun di Mekkah ia belajar kepada ulama-ulama terkenal seperti Saidi Syarif Zaini Dahlan (mufti mazhab Syafi’i), seorang ulama terkenal berasal dari Turki. Kemudian ia juga berguru dengan Syekh Sayyid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dan ulama bangsa Arab lainnya. Kepada ulama-ulama Jawi Atau Asia ia belajar kepada Syekh Muhammad Yunus bin Abdurrahman Batubara Asahan, Syekh H. Zainuddin Rawa, Syekh Ruknuddin Rawa, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani, Syekh Abdul Qodir bin Abdurrahman Kutan al-Kalantani, Syekh Wan Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani dan lain-lain. Khusus tentang tarekat Naqsyabandiyah ia belajar kepada Syekh Sulaiman Zuhdi. Ia mendapat surat ijazah sebagai “Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah”, dan diberi nama Syekh Haji Abdul Wahab Rokan Jawi al-khalidi an-Naqsyabandi. Kemudian, Syekh Sulaiman Zuhdi menyuruh Haji Abdul Wahab Rokan kembali ke tanah airnya untuk menyebarkan Tarekat Naqsyabandiah.
Di namakan Syekh Abdul Wahab dengan “Rokan”, karena ia berasal dari daerah Rokan, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Di namakan dengan “al-Khalidi”, karena ia menganut tarekat periode Syekh Khalid sampai pada masanya. Dan dinamakan ia dengan “an-Naqsyabandi”, karena ia menganut tarekat yang ajaran dasarnya berasal dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi.
Menurut silsilah urutan pengambilan tarikat naqsyabandiyah, Syekh Abdul Wahab Rokan adalah keturunan ke-32 dari Rasulullah Saw. Adapun silsilah tarekat yang dianut oleh Syekh Abdul Wahab Rokan ini, dapat dilihat pada bait-bait sya’ir beliau di bab lampiran.
Silsilah Keturunan Syekh Abdul Wahab Rokan
Maryam binti Syekh Zainuddin, asal Tanah Putih. Anaknya: Suhil, cantik, Zamrud, Faqih Tambah, Faqih Na’im, dan Sufinah. (9) Badariyah, asal Kubu. Anaknya: FaqihTuah. (10) Rukiah binti Abdullah, asal Kubu. Anaknya: Hj. Lathifah, Atikah, Sidiq, H. Ahmad Mujur. (11) Hj. Khadijah Rawa. Anaknya H. Zakaria (12) Namin, Asal Panai. Anaknya: Habibah. (13) Jami’ah, asal Labuhan Tangga. (14) Hawa, asal Deli. (15) Fatimah, asal Tembusai. (16) Aisyah binti H. Ismail, asal Tembusai. Anaknya 7 Orang akan tetapi meninggal waktu kecil. (17) Radhiyah binti khalifah Abu Bakar, asal Tembusai. (1
Siti Indah Rupa, asal Tembusai. (19) Kino, asal Tanah Putih. (20) Hasnah, asal Habsyi. (21) Sa’adah, asal Habsyi. (22) Peti, asal Tembusai. Anaknya: Ismail, M. Daud, Aisyah, Usamah, dan H. Madyan. (23) Padi, asal Langkat. Anaknya: Siti Hawa, Faqih Mahadi, Mansur, dan Abdul Jalil. (24) Asiah, Asal Batu Pahat malaysia. Anaknya: Suhil, Syukur, dan Cahaya. (25) Maryam, asal Tanah Putih. Anaknya: H. Mu’im al-Wahhab, Maimun. (26) Khuzaimah (Taemah) binti H. Abdur Rahman, asal Kubu. (27) Siti, Asal Batu Pahat Malaysia. Anaknya: Hj. Jami’ah (Kembang), dan Hj. Rahimi
Syekh Faqih Mahadi, (9) Syekh Faqih Na’im, (10) Syekh Haji Mu’im al-Wahhab, (11) Syekh Mansur, (12) Syekh Haji Ahmad Mujur, (13) Syekh Muhammad Daud, (14) Syekh Haji Madyan al-Wahhab.
Nafisah, (9) Hawa, (10) Aisyah, (11) Hajjah Kembang, (12) Hajjah Rahimi.
Syekh Abdul Wahab Rokan mempunyai istri dua puluh tujuh orang. Mereka itu adalah:
(1) Mariah binti Datuk Jaya Perkasa Abdul Jalil, asal Kubu. Mendapat satu orang anak bernama Abdullah. (2) Khadijah binti Abdullah, asal Kualuh. Anaknya: Ahmad, H. Yahya Afandi, dan H. bakri. (3) Halimah binti Datuk Jaya Perkasa Muhammad Dali, asal Kubu. (4) Sa’diyah binti H.A. Manan. Anaknya: Hj. Roqoyyah, H. Abdul Jabbar, Nafisah, dan Ibrohim. (5) Zubaidah binti Nusul, asal Kubu. Anaknya: Musa, Harun, Hamzah, M. Yunus, dan Matin. (6) Zahrah (anak seorang juru tulis dari Negeri Tembusai). (7) Siti Zainab binti Sultan Abdul Hamid, asal Tembusai. Anaknya: Abdul Khaliq dan Abdul Qohar. (
Pada tahun 1345 H. jumlah anak-anak Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan tercatat 26 orang, terdiri dari 14 laki-laki dan 12 perempuan.
Laki-laki: (1) Syekh Haji Yahya, (2) Syekh Haji Bakri, (3) Syekh Haji Harun, (4) Syekh Haji Abdul Jabbar, (5) Syekh Faqih Tuah, (6) Syekh Haji Nashruddin, (7) Syekh Faqih Yazid, (Faqih Tambah), (
Perempuan: (1) Hajjah Roqoyyah, (2) Habibah, (3) Cantik, (4) Zamrud, (5) Asmah, (6) Hajjah Latifah, (7) Atikah, (
Adapun murid-murid Syekh Abdul Wahab Rokan yang diangkat menjadi khalifah dan turut andil meneruskan cita-cita beliau dalam penyebaran dakwah Islam dan ajaran tarekat adalah sebagai berikut:
Langkat: Khalifah Sultan Musa al-Muazzamsyah penguasa tertinggi Kerajaan Langkat, Khalifah H. Muhammad Arsyad.
Deli Serdang: Khalifah Abdul Majid, Khalifah Kasim, Khalifah H.M. Daim, Khalifah H. Abbas.
Tebing Tinggi: Khalifah Tuanku Haji
Asahan: Khalifah H. Muhammad Nur, Khalifah Ramadhan, Khalifah Abdur Rahman, Khalifah H. M Nur bin H. M. Tahir.
Labuhan Batu, (Bilah): Khalifah H. Abdul Muthalib, Khalifah H. Abdur Rauf, Khalifah Abbas Khalifah H. Sulaiman, Khalifah Ahmad, Khalifah Ja’far, Khalifah H. M. Nur, Khalifah M. Yusuf, Khalifah Junid. (Kota Pinang) Khalifah Tuanku Haji, Khalifah H. M. Thaib, Khalifah Maarif, Khalifah M. Arif, Khalifah Daim, Khalifah Aman, Khalifah Ibrahim.
Tapanuli Selatan: Khalifah H. Abdul Manan, Khalifah H. M. Arsyad, Khalifah M. Nur, Khalifah Kasim, Khalifah Abdul Kadir, Khalifah Mukmin, Khalifah H. Sulaiman Khalifah Malim Itam, Khalifah M. Rasyid, Khalifah M. Salih, Khalifah Ahmad, Khalifah Yakin, Khalifah Sulaiman, Khalifah Ramadhan.
Aceh, (Alas): Khalifah Panjang.
Riau, (Kubu): Khalifah H. M. Saleh, Khalifah H.M. Arsyad, Khalifah H. Abdur Razak, Khalifah H. Umar, Khalifah H. Abdul Ghani, Khalifah H.M. Tahir, Khalifah H. Abdul Jabbar, Khalifah Maksum, Khalifah Kamaluddin, Khalifah Fakih Panjang, Khalifah Yatim, Khalifah Sajak, Khalifah Muhammadiyah, Khalifah Rasul, H. M. Said, Khalifah H. Abdul Fattah. (Tembusai): Khalifah Daud, Khalifah H. Usman, Khalifah H. Abdul Wahab, Khalifah Muhammad, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Ibrahim, Khalifah H. M Saleh, Khalifah Raja Daud, Khalifah H. Mustafa, Khalifah H. M. Zainuddin, Khalifah H. Abdul Majid, Khalifah Abdul Syukur, Khalifah Tahid, Khalifah H. Mahmud, Khalifah Fakih Kamaluddin, Khalifah Maaruf. (Tanah Putih): Khalifah Abdul Hakim, Khalifah Ali, Khalifah M. Nur, Khalifah Usman, Khalifah M. Zein, Khalifah Ibrahim, Khalifah Junid. (Rambah): Khalifah H. M. Arsyad, Khalifah Itam, Khalifah Hasan, KhalifahYusuf. (Kota Intan): Khalifah Imam Besar, Khalifah Jaah. (Inderagiri): Khalifah Muda, Khalifah Mukmin. (Rawa): Khalifah H. Sulaiman, Khalifah H. Ismail, Khalifah H. Abdur Rahman. (Kampar): Khalifah Thaifuri. (Siak): Khalifah Abd. Ghani
Bangka: Khalifah Toha, Khalifah Sya’ban, Khalifah Abdul Manan, Khalifah Ramadhan, Khalifah H. Abdul Ghani Sulaiman.
Sumatera Barat: Khalifah H. M. Yunus, Khalifah Rajab, Khalifah H. Abdullah, Khalifah Ramadhan.
Jawa Barat: Khalifah H. Usman, Khalifah H. M. Zein.
Malaysia, (Batu Pahat): Khalifah H. Umar, Khalifah H. Zakaria, Khalifah Muhammad, Khalifah H. Muhammad, Khalifah Junid. (Kelantan): Khalifah M. Said. (Selangor): Khalifah H. M. Saleh (Perak): Khalifah M. Syarif.
Cina: Khalifah H. M. Saleh.
Putra Tuan Guru: Khalifah H. Yahya Afandi, khalifah H. Zakaria, Khalifah H. Abdul Jabbar, Khalifah H. Harun, Khalifah M. Daud.
Haul Syekh Abdul Wahab Rokan
Tanggal 21 Jumadil Awal 1345 H. bertepatan dengan 27 Desember 1926 M. adalah tanggal menjadi kenangan bagi seluruh anak, cucu dan murid-murid beliau, itulah tanggal hari beliau menutup mata berpulang kerahmatullah di Babussalam Langkat Sumatera Utara.
Tangisan yang mencekam hati, menusuk dada yang dirasakan oleh anak cucu serta murid-muridnya semua. Akhirnya setiap tanggal 21 Jumadil Awal dijadikan hari pertemuan oleh seluruh murid-muridnya untuk mengenang mutiara-mutiara yang ditinggalkan oleh beliau, terutama ajaran tarekat Naqsyabandiyah yang menyampaikan beliau ke makam waliyullah, yang termasyhur dengan “Kekeramatan Tuan Guru Babussalam”. Hingga sampai saat ini dapat dilihat keramaian oleh para penziarah ke babussalam, terutama hari jumat dan minggu. Mereka datang dengan berbagai macam keperluan dan kepentingan serta bersilaturrahmi dengan penerus atau pengganti-pengganti beliau.
Pertemuan setiap tanggal 21 Jumadil Awal tersebut dikemas dalam satu hajatan besar yang disebut dengan “Haul Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi al-Naqsyabandi” , yang diadakan setiap tahunnya menurut tanggal dan bulan Hijriyah.
Pada setiap peringatan Haul ini, Babussalam melimpah ruah oleh arus manusia yang berdatangan dari segenap jurusan, bahkan dari malaysia, Singapura, Berunai, Filipina dan Thailand juga tak ketinggalan. Tamu-tamu ini adalah murid-murid dan jama’ah murid-murid beliau, bahkan banyak yang tidak diundang. Mereka datang karena cinta dan simpatik kepada beliau dan terhadap Babussalam. Begitulah kebesaran Syekh Abdul Wahab Rokan yang akhirnya meninggalkan nama baik Babussalam yang diwarisi oleh anak cucu dan jama’ah-jama’ah beliau.
Setelah Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan wafat, kedudukan mursyid dan nadzir Babussalam dipercayakan kepada putra-putra beliau. Mereka yang pernah memangku jabatan sebagai Tuan Guru Babussalam dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Syekh Abdul Wahab Rokan al-khalidi al-Naqsyabandi, (Tuan Guru I )
2. Syekh Haji Yahya Afandi (anak, Tuan Guru II)
3. Syekh Haji Abdul Manaf (cucu, Tuan Guru III )
4. Syekh Haji Abdul Jabbar (anak, Tuan Guru IV )
5. Syekh Haji Muhammad Daud (anak, Tuan Guru V )
6. Syekh Haji Faqih Yazid (Faqih Tambah) (anak, Tuan Guru VI )
7. Syekh Haji Muim al-Wahhab (anak, Tuan Guru VII )
8. Syekh Haji Madyan al-Wahhab (anak, Tuan Guru VIII )
9. Syekh Haji Anas Mudawwar (cucu, Tuan Guru IX )
10. Syekh Haji Hasyim al-Syarwani (cucu, Tuan Guru X ).
Pengganti Syekh Abdul Wahab Rokan yang pertama sebagai Tuan Guru Babussalam adalah putranya yang tertua, Syekh H. Yahya Afandi. Kedudukannya sebagai mursyid dan nâzdir Babussalam berusia pendek, memangku jabatan ini selama 4 tahun (wafat 1929 M.) dalam usia 56 tahun. Kemudian ia digantikan oleh putranya sendiri, Abdul Manaf, yang juga masa kepemimpinannya relatif singkat. Pada gilirannya ia digantikan oleh seorang khalifah tertua yang bernama Muhammad sa’id, yang telah diangkatnya terlebih dahulu untuk menggantikannya bila ia telah tiada. Abdul manaf meninggal dunia di tanah suci Mekkah ketika melaksanakan ibadah haji dan dimakamkan di sana.
Syekh H. Abdul Jabbar merupakan penerus selanjutnya, ia dipilih menjadi mursyid oleh suatu pertemuan semua khalifah yang hadir di Babussalam. Ia wafat pada 19 Jumadil Akhir 1361 H. setelah memangku jabatan mursyid dan nâzdir selama 6 tahun. Inilah pergantian kepemimpinan yang terakhir yang tampaknya berjalan tanpa persaingan. Pergantian-pergantian kepemimpinan berikutnya diwarnai persaingan di dalam keluarga berjalan seiring dengan pertikaian politik, karena berbagai kelompok berusaha mengendalikan Babussalam dan menjadikan wibawa nama besarnya itu sebagai asset politik.
Ketika Syekh Abdul Jabbar wafat (1943 M.) wakilnya (yang juga saudaranya), Syekh Muhammad Daud, menggantikannya sebagai pemimpin Babussalam. Pada waktu terjadi aksi meliter Belanda yang pertama (1947 M.) setelah kekalahan Jepang, Syekh Muhammad Daud meninggalkan Babussalam dan kembali lagi pada tahun 1951 M. Sementara itu khalifah yang lain yang juga saudaranya, Syekh Faqih Tambah (Yazid), telah mengambil kedudukan tertinggi di Babussalam. Kedudukannya sebagai mursyid dan nâdzir pada waktu itu dikukuhkan oleh sebagaian besar khalifah, dan ahli-ahli tarekat pada 1952 M.
Syekh Muhammad Daud, tetap mengangap dirinya sebagai pemimpin yang sah, sementara Faqih Tambah menyatakan dirinya juga sah dan tidak sudi melepaskan kedudukannya kepada Syekh Muhammad Daud ketika ia kembali lagi ke Babussalam. Sejak saat itu terjadilah konflik yang berkepanjangan yang belum ada penyelesaiannya sampai saat sekarang ini.
Konflik ini telah menjadikan Babussalam terpecah menjadi dua, pertama, kelompok yang menyatakan bahwa Syekh Muhammad Daud yang sah menjadi mursyid dan nâzdir Babussalam, dan yang lain menyatakan bahwa Faqih Tambahlah yang sah memangku jabatan tersebut. Pada akhirnya Syekh Muahammad Daud mendirikan rumah suluk-nya sendiri, yang letaknya tidak beberapa jauh dari rumah suluk yang dipimpim oleh saudaranya Syekh Faqih Tambah.
Usaha untuk menengahi polemik yang terjadi di antara keduanya, baik dari kalangan keluarga, organisasi Islam maupun dari kalangan pejabat pemerintah tetap tidak membuahkan hasil. Hingga keduanya di panggil kehadhirat Allah Swt. masing-masing tahun 1971-1972 M. keduanya tetap bertindak sebagai mursyid dan nâzdir di Babussalam.
Sepeninggal keduanya, terpilihlah putra Syekh Abdul Wahab Rokan yang lain, Syekh Mu’im al-Wahhab. Pelantikan Syekh Mu’im sebagai mursyid dan nâzdir, pimpinan tertinggi (Tuan Guru Babussalam VII), di hadiri oleh ribuan umat Islam yang datang dari dalam maupun luar negeri. Ia memangku jabatan tersebut lebih kurang 9 tahun (1972-1981 M). Selanjutnya ia di gantikan oleh putra terakhir Syekh Abdul Wahab Rokan, Syekh Madyan al-Wahhab. Walaupun demikian, Babussalam tetap terpecah dua. Rumah sulûk peninggalan Syekh Muahammad Daud, terus di kelola oleh putranya Syekh Haji Tajuddin.
Dua orang cucu terkemuka Syekh Abdul Wahab Rokan, Syekh Faqih Shaufi bin Syekh Haji Bakri dan Syekh Anas Mudawwar bin Syekh Muhammad Daud, merupakan dua calon terkuat dan di pandang layak untuk memimpin Babussalam sepeninggal Syekh Madyan al-Wahhab. Pemilihan ini tidak hanya melibatkan kalangan keluarga dan khalifah, tetapi juga melibatkan pejabat pemerintah. Dukungan politik yang diberikan oleh pemerintah kepada Syekh Anas Mudawwar merupakan faktor terkuat terpilihnya ia sebagai pimpinan tertinggi di Babussalam.
Keluarga besar Babussalam kembali disibukkan dengan pemilihan calon pemimpin baru sepeninggal Syekh Anas Mudawwar (1997 M.). Masing-masing Bani mengirim utusannya (calon) yang di pandang layak dalam pemilihan tersebut. H. Ahmad Fuad Said bin Syekh Faqih Tuah dan H. Hasyim al-Syarwani bin Syekh Mu’im al-Wahhab merupakan dua calon terkuat yang di pandang memenuhi syarat menjadi pemimpin Babussalam pada saat itu. Pada akhirnya H. Hasyim al-Syarwani terpilih menjadi mursyid dan nâzdir Babussalam menggantikan Syekh H. Anas Mudawwar setelah sebelumnya H. Ahmad Fuad Said mengundurkan diri dalam pencalonan tersebut.
Wassalam
Wah, terima kasih atas informasi tambahannya Pak Zikmal Fuad. semoga informasi ini dapat berguna bagi kita yang mau mengenal dan mengetahui perihal TuanGuru Babussalam dan Tarekat Naqsyabandi.
Pendahuluan
Sebelum meriwayatkan Shaykh Muim al-Wahhab, terlebih dahulu kita perlu perhatikan latar belakang hidup ayahnya, iaitu Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi. Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan adalah satu dari ulama Nusantara yang punya nama besar dan mengglobal melampaui tanah kelahiran dan daerah asalnya. Bagi masyarakat Langkat Sumatera Utara, Shaykh Abdul Wahab Rokan adalah icon peradaban dan perkembangan keislaman. Melalui jasa beliaulah, Islam tersebar kepada masyarakat luas.
Kealiman, kezuhudan, aktiviti dan produktivitinya dalam berkarya dan berdakwah meninggalkan khazanah yang serasa tidak pernah habis digali oleh generasi sekarang. Tokoh sejarawan Belanda, Martin Van Bruinessen menulis tentang Shaykh Abdul Wahab Rokan: “Seorang Shaykh Melayu (Abdul Wahab Rokan), hanya dengan sendirian saja mempunyai pengaruh di kawasan Sumatera dan Malaya sebanding dengan apa yang dicapai para Shaykh Minangkabau seluruhnya.
H. W. Mohd Shaghir Abdullah menyebutnya seorang Ulama yang sangat menonjol di pesisir Timur Sumatera hingga ke Malaysia terutama Johor dan Singapura. Bahkan Kerajaan Belanda yang diwakili oleh asisten Resident Van Aken menghadiyahkan kepada beliau “Bintang Emas”. Dalam pertemuan akbar di Babussalam (1923M) tersebut, Van Aken mengatakan:
“Adalah Tuan Syekh seorang yang banyak jasa mengajar agama Islam mempunyai murid yang banyak di Sumatera dan Semenanjung dan lainnya, dari itu kerajaan Belanda menghadiahkan “Bintang Emas” kepada Tuan Syekh”
Kemudian dengan tegas Shaykh Abdul Wahab Rokan menjawab: “Jika saya dipandang orang yang banyak jasa, maka sampaikan pesan (amanah) saya kepada raja Belanda supaya ia masuk Islam”. Kemudian Bintang Emas itu beliau serahkan kepada Sultan Musa al-Muazzam Syah (Raja Negeri Langkat) untuk diserahkan kembali kepada Kerajaan Belanda.
Shaykh Abdul Wahab Rokan (1811-1926M) adalah sufi agung yang hidup pada abad 19 dan 20. Beliau sangat berpengaruh dan memegang peranan penting dalam sejarah dan perkembangan Islam, terutama di lingkungan dunia Melayu, ahli dalam bidang fiqh, tauhid dan tasawwuf.
Shaykh Abdul Wahab Rokan adalah wali kenamaan, Shaykh Mursyid Kammil Mukammil yang memiliki karamah-karamah yang banyak. Beliau adalah murid kesayangan seorang ulama yang sangat terkenal, iaitu Shaykh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abi Qubais, Mekah.
Sekembalinya dari Mekah, beliau aktif menyiarkan tarekat di pelbagai negeri di Sumatera dan Malaysia. Shaykh Abd Wahab Rokan telah berjaya membangun pusat penyiaran tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah terbesar di Sumatera yang terkenal dengan nama Besilam (Babussalam).
Pada setiap 21 hb Jumadil Awal tahun hijrah, diperingati Haul Allah Yarham yang dihadiri banyak tokoh dari pelbagi kalangan. Dicatatkan tidak kurang dari 40 ribu jama’ah yang menghadiri pada setiap peringatan Haul yang datang dari pelbagai negeri dan bangsa seperti Malaysia, Thailand, Fhilipin, Singapura dan Brunai. Makamnya tidak pernah berhenti diziarahi dan menggerakkan roda perekonomian ramai orang khasnya di Besilam.
Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan mempunyai hubungan keturunan yang sangat luas, kerana beliau mengalami 30 kali perkahwinan (30 orang isteri), dan bilangan kesemua anak beliau ialah seramai 51 orang.
Berikut ini adalah salasilah keturunan Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqsyabandi sehingga kepada Shaykh Muim.
1. Mariah bte Datuk Jaya Perkasa cAbd Jalil, asal Kubu
2. Sacdiyah bte H. A. Manan, asal Kubu
3. Khadijah bte cAbdullah, asal Kualuh
4. Zubaidah bte Nusul, asal Kubu
5. Hjh. Khadijah Rawa.
6. Paduka Siti Zainab bte Sultan ‘Abd Hamid, asal Tembusai.
7. Buruk (Badariyah), asal Kubu
8. Maryam Besar bte Shaykh Zainuddin, asal Tanah Putih.
9. Rukiah bte cAbdullah, asal Kubu
10. Namai, asal Panai
11. Maryam Kecil bte Imam Yaman (ibu kepada Shaykh Muim), asal Tanah Putih
12. Taimah, asal Siak Mandau
13. Kino, asal Tanah Putih
14. Jumiah (Jami’ah), asal Kubu
15. Adwiyah, asal Tambusai
16. Aisyah bte Hj. Ismail, asal Tambusai
17. Khuzaimah (Taemah) bte Hj. Abdur Rahman, asal Kubu.
18. Siti Indah Rupa, asal Tembusai.
19. Hawa, asal Deli.
20. Shafura, asal Asahan
21. Zahrah, anak seorang juru tulis dari negeri Tembusai
22. Halimah bte Datuk Jaya Perkasa Muhammad Dali, asal Kubu
23. Asiah, asal Batu Pahat
24. Peti, asal Tembusai.
25. Siti, asal Batu Pahat
26. Padi, asal Langkat
27. Encik Hawa, asal Habsyi
28. Hasnah, asal Habsyi.
29. Sa’adah, asal Habsyi.
30. Saudah, asal Habsyi.
Tidak semua daripada isteri-isteri Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan tersebut mempunyai keturunan. Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan seorang yang cArif-Billah dan tidak menghairankan kalau beliau menurunkan zuriat yang alim dan salih. Pada tahun 1345 Hijrah, jumlah anak Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan tercatat 26 orang, terdiri dari 14 lelaki dan 12 perempuan, iaitu:
Lelaki: (1) Shaykh Haji Yahya, (2) Haji Bakri, (3) Saidi Shaykh Haji Harun, (4) Shaykh Haji ‘Abd Jabbar, (5) Faqih Tuah, (6) Haji Nashruddin, (7) Shaykh Faqih Yazid, (Faqih Tambah), (
Faqih Mahadi, (9) Faqih Na’im, (10) Shaykh Muhammad Daud al-Wahhab, (11) Mansur, (12) Shaykh Muim al-Wahhab, (13) Haji. Ahmad Mujur (14) Shaykh Haji Madyan al-Wahhab.
Perempuan: (1) Hajjah Roqoyyah, (2) Habibah, (3) Cantik, (4) Zamrud, (5) Asmah, (6) Hajjah Latifah, (7) Atikah, (
Nafisah, (9) Hawa, (10) Aisyah, (11) Hajjah Kembang, (12) Hajjah Rahimi.
Zuriat Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan tersebut lazim disebut dengan “BANI Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan” atau “BANI al-Wahhab”. Pada tahun 1978M jumlah cucu Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan adalah 255 orang.
Hasil penyelidikan sementara yang dilakukan oleh Hj. Luqman al-Hakim Jabir mengatakan bahawa keseluruhan zuriat daripada Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan berjumlah 10000 (sepuluh ribu orang) orang yang bertebaran di pelbagai daerah dan negeri.
Setelah kewafatan Tuan Guru pertama Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan, Besilam dipimpin secara turun temurun oleh kalangan keluarga Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan, mereka adalah:
1. Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi
2. Shaykh Yahya Afandi al-Wahhab
3. Shaykh ‘Abd Manaf Yahya al-Wahhab
4. Shaykh ‘Abd Jabbar al-Wahhab
5. Shaykh Muhammad Daud al-Wahhab
6. Shaykh Faqih Yazid (Tambah) al-Wahhab
7. Shaykh Muim al-Wahhab
8. Shaykh Madayan al-Wahhab
9. Shaykh Faqih Saufi Al-Bakri al-Wahhab
10. Shaykh Anas Mudawwar Muhammad Daud al-Wahhab
11. Shaykh Hasyim Al-Syarwani Muim al-Wahhab
(system bani abdul wahab)
Dalam catatan sejarah, empat belas anak laki-laki Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan tersebut menjadi ulama belaka. Salah seorang antara mereka ialah Shaykh Muim al-Wahhab yang mempunyai pengaruh di Besilam dan Rantau Kwala Simpang. Hampir-hampir tidak terdapat seorangpun yang berasal dari dua tempat ini yang tidak mendengar sebutan nama beliau. Beliau diakui oleh masyarakat Rantau Kwala Simpang sebagai ulama, guru sekaligus pendakwah yang disegani. Dalam satu riwayat disebutkan bahawa beliau seorang yang hampir mirip dengan bapanya, baik dalam bentuk dan personalitinya. Shaykh Muim al-Wahhab merupakan anak Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan yang menghasilkan banyak karya-karya.
Sungguhpun antara anak dan cucu Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan terdapat beberapa orang yang masyhur namanya, saya tinggalkan sahaja kerana sudah cukup diwakili oleh Shaykh Muim yang kemasyhurannya sangat diketahui ramai pada zamannya.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia bijak mati mengukir nama dalam suratan sejarah. Sejuta murid yang tidak dapat meneruskan perjuangan seorang guru adalah kurang bermanfaat. Cukup seorang murid sahaja, sekiranya ilmu dapat disebarkan dan sambung menyambung daripadanya kepada penerus berikutnya. Dalam sejarah, ramai ulama yang dapat memenuhi kategori dalam kalimat selayang pandang di atas, termasuk Shaykh Muim al-Wahhab, Tuan Guru ke-7 Besilam Babussalam Langkat yang akan diperkenalkan dalam halaman ini.
Tempat dan tarikh lahir Shaykh Muim
Nama penuh tokoh kajian ini ialah Shaykh Muim ibn cAbd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqsyabandi ibn cAbd Manaf ibn Muhammad Yasin ibn Tuanku Maulana cAbdullah Tembusai ibn Pak Edek bergelar Raja Narawangsa ibn Bendahara Gombak seorang pembesar di negeri Tembusai. Adapun laqab atau gelaran beliau adalah Shaykh Muim al-Wahhab. Beliau biasa di panggil dengan Shaykh Muim atau guru Muim atau guru Jempol.
Beliau dilahirkan pada hari Isnin 30 Sya’ban 1330H/1910M di kampung Besilam (Babussalam) Langkat pada zaman Kekuasaan Sultan Mahmud ibn cAbd al-Aziz ibn Sultan Musa al-Muazzam Syah, Raja negeri Langkat. Shaykh Muim adalah yang mula-mula dilahirkan di Madrasah Kecil tempat kediaman bapanya. Dicatatkan, beliau meninggal dunia pada hari Isnin, 11 Rabi’ul Awal 1401 H di Besilam dan dikebumikan di tempat kelahirannya tersebut.
Dari segi salasilah, nasab Shaykh Muim berketurunan ulama dan dari kerabat diraja. Ayah beliau adalah Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqsyabandi seorang wali kenamaan, pemimpin tarekat Naqsyabandiyah yang lebih terkenal dengan panggilan Tuan Guru Besilam Langkat. Sedangkan moyangnya Maulana Tuanku cAbdullah Tembusai adalah seorang ulama besar dan kerabat diraja yang sangat berpengaruh pada zamannya. Sementara ibu beliau, Maryam bte Imam Yaman (Khalifa Anbiya) Tanah Putih daripada isterinya Latibah bte Nakhoda Muda Kampar di antara orang besar negeri Kampar.
Shaykh Muim dilahirkan pada zaman kegemilangan ilmu pengetahuan. Pada masa tersebut ramai ulama-ulama kenamaan yang cukup disegani yang mengajar pelbagai ilmu pengetahuan kepada murid-murid yang datang dari pelbagai pelosok negeri ke Besilam. Dalam perjalanan waktu, Shaykh Muim tumbuh sebagai anak yang sihat, pintar dan memiliki semangat dan kreativiti untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sejak kecil Shaykh Muim tekun belajar al-Qur’an dan belajar ilmu pengetahuan serta berbagai-bagai ilmu lain lagi kepada ulama-ulama pada masa itu.
Keluarga dan salasilah keturunannya
Setelah ditemui beberapa manuskrip dan cerita orang tua-tua yang dikumpulkan daripada pelbagai kampung di Besilam dan Rantau Kwala Simpang maka dapatlah ditulis salasilah beliau berdasarkan data dan fakta yang lebih meyakinkan dan terpercaya.
Menurut riwayat, Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan memperoleh dua orang anak daripada isterinya Maryam bte Imam Yaman, iaitu Muim dan Maimun (meninggal pada masa kecil). Maryam kemudian lebih dikenali dengan nama Maryam kecil yang berasal dari Tanah Putih Riau.
Dalam catatannya, Shaykh Muim menulis bahawa beliau berkahwin dengan Maryam pada pagi hari jumaat hb 14 Rabi’ul Awal 1350H/1930M. Sedangkan majlis perkahwinan dilaksanakan pada hb 31 Rabi’ul Akhir 1350. Maryam adalah anak daripada Ahmad Bungsu Kubu dan Nuriyah cAbd al-Rahman Kubu. Perkahwinan Shaykh Muim dan Maryam memperoleh 8 orang anak, iaitu:
1. Muhammad
2. Marfu’atul Asma’
3. Musayyab
4. Hasyim al-Syarwani (Tuan Guru sekarang)
5. Na’imah
6. Mubarak
7. Nasyah al-Timyani
8. Nailan al-Najahah
Pada hb 1 Julai 1955M, Shaykh Muim berkahwin untuk kedua kalinya dengan Azizah bte Ahmad Bungsu, iaitu adik daripada Maryam Ahmad isteri pertamanya. Dari perkahwinan ini Shaykh Muim memperoleh 8 orang anak, iaitu:
1. Muhammad Yaqdum
2. Al-Bazzar
3. Muhammad Kamal
4. ‘Abd Aziz Ibraz
5. Laila Banit
6. Yusra Hanim
7. Irfansyah
8. cArifatul Aini
Di dalam buku catatan pada bahagian sya’ir dan qashidah, Shaykh Muim menulis sebahagian salasilah keturunannya dalam gaya bahasa Arab yang indah:
معم عبد الوهاب وبعض نسله:
معم عبد الوهاب الركاني له من الاولاد عشر يعني:
محمد, مرفوعة الأسماء مسيب, هاشم وهو الشرواني
نعيمة, وبعدها مبارك قد مات, ثم نشأة التمياني
نيل النجاحة كذاك يقدم أخو البزار أصغر الولداني
فكلهم من مريم الصبور أما سوى هذين الأخرين
أمهما عزيزة لقد أتت بديلة عن أختها تثني
فمن محمد إلى مبارك ولدوا في باب السلام الأمني
كذاك يقدم وغيرهؤلا فإنهم قد ولدوا في التمياني
جاءت بنتان منها في بوكت جولع وولد منها في كمفغ كراني
وبحفيدتين قد ظفرت بفضل ربي الكريم أعطاني
هما ألفة هانم من مرفوعة وخيرة من محمد بنت ابني
لله در كلهم جميعا عصمهم عن رجس كل شيطان
وبالإيمان الكامل ثبتهم حفظهم عن البلا و المحن
وصلى رب دائما و سلم على النبي الهاشمي العدناني
و على جميع الأل و الأصحاب وتابعيهم في مدى الأزمان
Maksudnya:
Muim cAbd al-Wahhab dan beberapa keturunannya: Muim cAbd al-Wahhab Rokan memiliki 10 anak, iaitu Muhammad, Marfu’atul Asma, Musayyab, Hasyim al-Syarwani, Na’imah dan Mubarak (meninggal pada waktu kecil). Kemudian Nasyah at-Timyani, Nailan Najahah, Yaqdum dan terakhir adalah al-Bazzar. Kesemuanaya dari isteriku Maryam yang sabar. Adapun dua yang terakhir dilahirkan oleh isteriku Azizah, isteri keduaku setelah meninggal kakaknya Maryam. Maka dari Muhammad sehingga Mubarak, mereka dilahirkan di Babussalam yang aman, begitu juga dengan Yaqdum. Selain dari mereka dilahirkan di Tamiang (Aceh). Dua anak perempuan Maryam (Nasyah dan Nailan) di lahirkan di Bukit Juling Kampung Karani. Allah telah menganugerahiku dua orang cucu: Ulfah daripada marfu’ah dan Khairah binti Muhammad anakku. Bagi Allah adalah mutiara seluruhnya, Allah menjaga mereka dari pada kekejian syaitan. Allah memelihara mereka dengan iman yang sempurna, dan Allah menjaga mereka dari bala’ dan fitnah. Shalawat dan salam atas nabi bani Hasyim al-Adnani, seluruh keluarga dan sahabat serta seluruh pengikut-pengikutnya.
Dalam mukadimah dari buku “Salasilah Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan” yang disusunnya, Shaykh Muim mengatakan, “
Maka ini satu susunan yang sengaja disusun oleh Muim cAbd al-Wahhab Rokan dari hal silsilah keturunan (terombo) bagi Shaykh cAbd al-Wahhab al-Khalidi al-Naqsyabandi ke atas dan ke bawah menurut yang diperoleh dan yang dapat diusahakan. Mengenangkan supaya jangan nanti zuriyat dan dzawi al-Arham bagi beliau (r.a) di belakang hari semena-mena tidak tahu mana-man kaum kerabat dan famili, dan untuk supaya senang dalam hubungan silaturrahmi (saling kenal-mengenal) dan lain-lain yang diperluan. Sekian muqaddimah ini ana gariskan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi pertolongan dan hidayah sampai siap buku silsilah ini dikerjakan. Wa Allah ‘ala ma aktasibu wakil, wa Huwa bi al-ijabah jadir ”
Manuskrip naskah salasilah Shaykh Muim ini diperoleh dari al-Ustaz Mukhtar Gaffar ibn Lebai Jacfar. Tidak diketahui secara pasti tahun berapa salasilah tersebut ditulis. Akan tetapi melihat kandungan syair tersebut, diperkirakan ditulis pada (1968M) setelah kelahiran al-Bazzar, anak daripada isteri beliau Azizah Ahmad. Kemudian Shaykh Muim menulis ulang salasilahnya tersebut pada tahun 1394H/1974M di Besilam.
Latar belakang pendidikannya
Seperti lazimnya kanak-kanak kecil pada masa itu, Shaykh Muim menerima pengajaran agama daripada orang tuanya. Selain beberapa ulama di kampungnya yang membimbingnya. Pada mulanya beliau belajar atau mengaji alif hingga yā secara talqin (secara lisan) yang diajarkan langsung oleh ayahnya sendiri Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan, kemudian dilanjutkan oleh ibunya Maryam bte Imam Yaman. Berkat bimbingan kedua orang tuanya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Shaykh Muim dapat menamatkan kitab Ejaan dengan cepatnya.
Pada tahun 1338H/1918M atau ketika Shaykh berumur 7 tahun, beliau di serahkan oleh orang tuanya kepada anaknya yang lain lagi iaitu abang Muim sendiri Saidi Shaykh Harun Kamaludin dan tinggal di rumah isterinya Zubaidah (Daeng Siti Khalijah). Di tempat ini Muim belajar al-Qur’an sampai tamat. Setelah 2 tahun belajar al-Qur’an, Shaykh Muim dikembalikan oleh gurunya Zubaidah kepada ayahnya Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan, selanjutnya Shaykh Muim diserahkan kembali oleh ayahnya kepada menantunya guru Maimun Hasan al-Wahhab iaitu suami daripada anaknya Zamrud. Di rumah guru Hasan inilah Muim belajar berhitung, tauhid, fikah, faraidh dan tajwid dengan menggunakan kitab-kitab Melayu.
Pendidikan formal Shaykh Muim dimulai di Maktab Musawiyah Babussalam (sekolah Agama) dan Shaykh Muim duduk di kelas IV (1340 H/1920 M). Pada masa itu Shaykh Muim berumur 10 tahun. Di lembaga pendidikan inilah Shaykh Muim mulai bergelut dengan kedalaman khazanah Islam di bawah bimbingan para gurunya. Di tempat ini Shaykh Muim mulai belajar ilmu nahw, sarf, lughah (bahasa), tarjamah al-Qur’an dan lain-lain lagi dengan gurunya al-Haj ‘Abd Rasyid Thaib al-Minangkabawi.
Setelah 4 tahun belajar di lembaga pendidikan Musawiyah tersebut, Shaykh Muim melanjutkan ke peringkat berikutnya iaitu kelas takhassus (setingkat universiti). Pada masa itu Shaykh Muim berumur 15 tahun. Dalam peringkat ini Shaykh Muim belajar pelbagai ilmu kepada al-Haj Muhammad Syahiri al-Yuni Batubara, seperti nahw, sarf, fiqh, tafsir, hadith, bayan, mantiq dan lain-lain lagi.
Pada tahun 1926M atau 40 hari setelah kewafatan ayah beliau, Shaykh Muim pindah dari rumah guru Hasan ke rumah abangnya Shaykh Yahya Afandi al-Wahhab, yang ketika itu sebagai Tuan Guru II menggantikan bapanya Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan. Oleh Shaykh Yahya, Shaykh Muim ditempatkan di rumah anaknya Arba’iyah Yahya kepada daripada al-Haj Muhammad Syahiri al-Yuni Batubara. Maka tinggallah Shaykh Muim pada masa itu serumah dengan gurunya tersebut.
Semenjak saat itu Shaykh Muim dalam pemeliharan abangnya Shaykh Haji Yahya sehingga wafat abangnya tersebut. Pernah beberapa kali Shaykh Yahya mendatangi adiknya tersebut dengan maksud ingin menikahkannya. Akan tetapi beliau belum berkehendak dalam hal itu, kemudian beliau menjawah: “kalaulah abng Haji masih mau memelihara saya, biarlah saya belajar dulu”. Mendengar jawapan adiknya tersebut, Shaykh Yahya berjanji akan menghantarkannya ke Mekkah al-Mukarramah untuk belajar pada tahun hadapannya bersama anaknya Ridhwan Yahya. Akan tetapi Allah (s.w.t.) berkehendak lain, tiga bulan setelah percakapan tersebut Shaykh Haji Yahya meninggal dunia (1350H/1930M).
Walaupun perasaan sedih sangat sukar dihilangkan, namun Shaykh Muim tiada kehilangan pedoman. Meskipun tidak pernah mendapat pendidikan di Mekah ataupun di Mesir sebagaimana abang-abangnya, Shaykh Muim tidaklah berkecil hati. Baginya, kemampuan seseorang bukan bergantung dari jauhnya tempat belajar, melainkan bagaimana orang tersebut boleh memanfaatkan pengetahuan dan ilmunya bagi kemaslahatan masyarakat. Beliau telah mengorbankan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan, sehingga Shaykh Muim dapat dikategorikan sebagai ulama yang memiliki pelbagai ilmu pengetahuan keislaman.
Minatnya terhadap ilmu-ilmu keagamaan telah terserlah sejak zaman kanak-kanak lagi. Shaykh Muim memiliki otak yang cerdas. Semenjak belajar di maktab Musawiyah beliau sentiasa menunjukkan perestasi cemerlang. Beliau adalah pelajar terbaik dan sentiasa mendapatkan peringkat pertama dalam setiap peperiksaan. Bahkan dalam usianya yang masih muda (16 tahun), beliau telahpun dipercayakan menjadi guru di maktab tersebut. Dalam usianya 18 tahun (1928/…M), beliau digelar dengan guru “Jempol” atau guru yang sangat cemerlang dalam pengajaran.
Dalam perjalanan waktu, Shaykh Muimpun semakin dewasa dan mengalami perubahan berkaitan dengan intelektualiti dan spiritual. Perkembangan dan perubahan yang berlaku pada diri Shaykh Muim tidak terlepas dari proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Tidak sia-sia, perjuangannya menuntut ilmu telah mengangkat dirinya menjadi salah seorang ulama yang disegani dan dihormati di kalangan ulama lain lagi di Langkat mahupun di Aceh Tamiang.
Dalam buku catatan yang ditulis oleh Shaykh Muim, disebutkan senarai nama-nama ulama yang menjadi guru beliau berikut kitab-kitab pelajarannya:
1. Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi Shaykh Muim memulai mengaji Hijai/al-Qacidah al- Baghdādiyyah
2. Maryam Imam Yaman. Meneruskan belajar Al-Qacidah al-Baghdādiyyah
3. Khalifah Shaleh Batubara. Guru pembimbing dalam menghafal surat yasin dan lain-lain lagi.
4. Zubaidah/isteri Saidi Shaykh Harun. Shaykh Muim belajar al-Qur’an sampai tamat dan belajar kitab jawi kecil
5. Guru Hasan Muhammad. Shaykh Muim belajar pelbagai ilmu antaranya al-fiqh, al-tauhid, al-faraidh dan membaiki baca al-Qur’an.
6. Al-Haj ‘Abd Rasyid al-Minangkabawi. Kepada ulama asal Minangkabaw ini, Shaykh Muim belajar al-nahw, al-sarf, al-lughah (bahasa), dan tarjamah al-Qur’an al-Karim.
7. Engku Manaf. Shaykh Muim belajar Kitab al-Mukhtasar atau al-Nahw
8. Shaykh Faqih Juned Harun. Shaykh Muim belajar I’rāb al-Ajrumiyyah
9. Al-Haj Muhammad Said Kubu. Guru di Maktab Musawiyah
10. Faqih Tambah Al-Wahhab. Guru di Maktab Musawiyah
11. Al-Haj Muhammad Syahiri Al-Yuni Batubara. Kepada ulama asal Batubara ini Shaykh Muim belajar pelbagai ilmu, antaranya al-nahw, al-sarf, al-fiqh, al-tafsir, al-hadith, al-bayan, mantiq dan lain-lain lagi.
12. Guru Sabar (Mubar) Barus. Shaykh Muim belajar matematika, bahasa Indonesia dan ilmu guru.
13. Faqih Na’im al-Wahhab. Shaykh Muim belajar Kitab al-Mizan Al-Dzahabi dan al-cArudh
14. Kadi al-Haj Muhammad Nur Langkat. Kepada ulama ini Shaykh Muim belajar al-Mantiq, al-Sawi al-Bayan, al-Syarqawi dan al-Fiqh.
15. Shaykh cAbdullah Afifuddin al-Langkati. Kepada ulama terkenal Langkat ini, Shaykh Muim belajar tafsir jalalayn.
16. Al-Hajah Halimah al-Sacdiyyah. Kepada ahli qiraah ini (kemanakan Shaykh Muim), beliau belajar qira’ah al-Nafic dan Abu cUmaru.
17. Al-Haj Muhammad Salim Langkat. Shaykh Muim belajaru bahasa Arab Mesir
18. ‘Abd Rasyid Tambusai. Shaykh Muim belajar Barzanji Marhaban.
19. ‘Abd Wahid Jumail. Shaykh Muim belajar huruf latin.
20. Guru Untak. Guru di Maktab Musawiyah.
21. Abu Bakar. Guru di Maktab Musawiyah.
22. Awak Marhawi. Shaykh Muim belajar bahasa Belanda.
Di dalam buku catatan pada bahagian culum Shatta, Shaykh Muim menulis kitab-kitab yang pernah dipelajarinya selain yang tersebut di atas.
A. Tauhid
1. Miftah al-Jannah
2 . Al-Durr al-Thamin
3 . Matn al-Sanusi,
4. Kifayat al-cAwwam.
B. Fikah
1. Masail al-Muhtadi
2. Bidayat al-Mubtadi
3. Muslim al-Mubtadi
4. Matlac al- Badrayn
5. Matn Ghayah al-Taqrib
6. Fath al-Qarib
7. Fath al-Mucin
8. Al-Diyanah wa al-Tahdzib
C. Tasawwuf
1. Siyar al-Salikin
D. Akhlaq
1. Tafsir al-Khalaq
E. Tajwid
1. Tuhfat al- Ikhwan
F. Mi’raj
1. Kifayat al-Muhtaj
G. Lughah
1. Al-Mufradat
2. Al-mutala cah al-Rasyidah
3. Al-Qiracah al-Rasyidah
4. Al-Tariqah al-Mubtakirah
H. Nahwu
1. Al-Kafrawi
2. Shaykh Khalid
3. Al-Azhari
4. Tashil Nail al- Amani
5. Al-cImrathi
6. Mutammimah
7. Al-Fawaqih
8. Al-Kawakib
9. Al-alfiyyah
10. Al-cUsmawi
I. Bayan
1. Majmuc Musytamil
J. Sharf
1. Madkhal
2. Matn al-Bina
3. Matn al-cAzi
4. Al-Kailani
5. Lamiyat al-Af cal
K. Ushul Fiqh
1. Al-Waraqat
L. Mantiq
1. Idhah al-Mubham
M. Ma’ani
1. Jauhar al-Maknun
Mengenai Tarekat Naqasyabandiyah al-Khalidiyah, Shaykh Muim menerima baiah daripada Shaykh Yahya Afandi al-Wahhab (1927M). Pada waktu yang lain, beliau juga mempelajari Tarekat Syadzaliyah daripada Shaykh Muhammad Daud al-Wahhab, kedua-duanya abang daripada Shaykh Muim sendiri. Selain itu beliau belajar Ratib Saman daripada Khalifah cAbdullah Umar Tambusai, dan bersuluk pertama 10 hari kepada al-Haj Muhammad Sacid al-Kalantani (1945 M).
Adapun gelar “Shaykh” beliau terima pertama kali pada hb 19 ramadhan (1959 M) yang di berikan oleh Shaykh mursyid Faqih Juned Harun al-Khalidi di Tanjung Karang Aceh Tamiang. Dan untuk kedua kalinya, gelar tersebut diterimanya ketika masa pertabalan beliau menjadi Tuan Guru Besilam ke-7, menggantikan Tuan Guru sebelumnya Shaykh Faqih Tambah al-Wahhab (1972 M).
2.5 Sifat-sifatnya
Shaykh Muim berperawakan sedang, zuhud dan wara’, lemah-lembut namun tegas dalam mengambil suatu keputusan. Beliau seorang yang sangat amanah, sentiasa mencatat segala yang berkaitan dengan kepercayaan yang dibebankan kepadanya dan dilaksanakan dengan sejujur-jujurnya. Beliau adalah tokoh yang luas pergaulannya. Beliau bukan sahaja dekenali di Besilam tetapi juga di Aceh Tamiang dan beberapa daerah di Sumatera Utara dan Riau.
Shaykh Muim dikenali sebagai seorang yang sangat disiplin dalam menjalankan peraturan-peraturan. Beliau bersikap adil dalam mengambil suatu keputusan, menghukum siapa sahaja yang bersalah tidak membezakan antara keluarga dan bukan keluarga meskipun anak sekalipun kalau bersalah akan dihukum.
Ziarah ke kubur merupakan kebiasaan yang beliau lakukan setiap subuh. Berkebun pada pagi dan petang merupakan kegiatan yang sentiasa beliau lakukan. Beliau gemar bersedekah baik kepada anak-anak mahupun orang tua-tua.
Di riwayatkan, bahawa beliau seorang yang qana’ah (cukup seadanya sahaja). Sebelum meninggalnya, Azizah Ahmad isteri beliau pernah menuturkan: “Atok (Shaykh Muim) tidak begitu suka dengan makanan-makanan yang enak, terkadang beliau menangis melihat makanan yang enak karena teringat akan keadaan faqir miskin dan orang-orang terlantar”.
Beliau melayani yang bodoh sama dengan beliau melayani yang cerdik, beliau menghormati kanak-kanak sama dengan beliau menghormati orang-orang dewasa. Beliau tidak pernah menghampakan pemberian dan jemputan dari siapa sahaja. Dan jika diberi, maka pemberian-pemberian itu akan dibahagikan pula kepada orang-orang sekelilingnya. Inilah sifat-sifat dan cara-cara hidup beliau yang membuat setiap orang yang berhubung dengan beliau menyimpan kenangan-kenangan yang indah terhadapnya.
Dicatatkan bahawa Shaykh Muim adalah di antara ulama Besilam yang kuat melakukan ibadah, selain aktif beramal dengan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, beliau aktif mengajar, mengarang, tilawah al-Qur’an, pelbagai wirid dan zikir sama ada siang mahu pun malam. Demikian beberapa sifat beliau yang dapat ditulis.
2.6 Bidang ketokohan
Dari tujuh puluh satu tahun perjalanan hidup Shaykh Muim (1910-1981M), minimum ada dua main stream aktiviti hidupnya. Pertama adalah aktivitinya sebagai seorang intelektual dalam bidang fikah, dan kedua adalah aktivitinya yang sangat signifikan dalam tarekat. Bagi Shaykh Muim ilmu yang diraihnya dari guru-gurunya adalah bekal dalam menggali dalam khazanah Islam. Sedangkan yang didapatnya di lapangan (Besilam) sebagai tempat pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah adalah bekal utamanya dalam mengorganisir penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah ke segala penjuru negeri di Sumatera.
Kita akan mencuba melihat dua bidang yang digeluti oleh Shaykh tersebut, dalam rangka pengabdian diri untuk kepentingan dakwah Islam.
a. Sebagai seorang Faqih
Dilihat dari kegiatan-kegiatan pendidikan, guru-guru yang mengajarnya serta kitab-kitab pelajarannya, jelas Shaykh Muim adalah seorang faqih yang mengambil berat tentang syariat Islam dan amalannya. Tetapi perlu dijelaskan bahawa akidahnya, sebagaimana yang jelas daripada tulisan-tulisannya sendiri adalah akidah Sunni.
Besilam adalah sebuah Kampung yang kaya dengan khazanah intelektual Islam. Dalam dunia fikah, Kampung yang diasaskan Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan ini, telah banyak melahirkan para Fuqoha dan guru-guru ugama yang cukup disegani di Sumatera Utara, Riau, Aceh bahkan Malaysia pada masa itu.
Di kampung halaman tempat lahir dan dibesarkannya Shaykh Muim ini, terdapat sebuah tradisi “pertabalan faqih”. Gelar ini diberikan kepada yang memiliki kategori kealiman dalam ilmu fikah, dan telah menamatkan beberapa buah kitab pelajaran. Pertabalan tersebut diumumkan dihadapan orang-orang ramai di masjid atau Madrasah Besar Tuan Guru Besilam, oleh maha guru Saidi Shaykh Harun. Dalam sejarahnya, Saidi Shaykh Harun ini telah melantik beberapa orang faqih. antaranya adalah faqih Na’im, faqih Nu’man, faqih Sa’id, faqih Tambah. Generasi berikutnya, muncullah nama-nama seperti faqih Khaliq, faqih Abban, faqih Saufi.
Mengenai Shaykh Muim sendiri, meskipun beliau tidak mengikuti pengajaran oleh Saidi Shaykh Harun, tetapi kedudukannya dari sudut ilmu pengetahuan adalah setaraf dengan fuqaha dan ulama-ulama lainnya yang berada di Langkat dan Sumatera utara pada zaman itu.
Al-Haj Madyan cAbd Jalil mengatakan bahawa Shaykh Muim adalah seorang yang ‘alim dalam ilmu fikah dan al-Qur’an. Dari fakta dan data yang diperoleh, baik dari kitab-kitab yang dipelajarinya dan ulama-ulama yang mengajarinya bahkan beliau mengarang kitab fikah ighatsatul Muqallidin, maka Shaykh Muim dapat dikatagorikan seorang faqih yang mumpuni dalam bidangnya.
Shaykh Muim adalah menganut Sunni Syafi’i. Beliau aktif dalam menulis, tidak kurang dari 11 tulisan dalam pelbagai ilmu yang beliau hasilkan. Beliau juga aktif dalam mengajar, lebih dari separoh hidupnya beliau habiskan untuk mengajar, sehingga beliau memiliki murid yang tersebar di pelbagai daerah di Sumatera Utara, Riau dan Aceh.
Karya-karya tulisnya
Disiplin ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap pengarang pada umumnya diwariskan kepada pengikutnya dan berlanjut dari satu generasi kepada generasi sesudahnya.
Shaykh Muim adalah seorang ulama yang rajin menulis. Setiap ilmu yang beliau pelajari dan miliki, beliau himpunkan dalam banyak catatan-catatannya, untuk dapat dibaca dan dipelajari serta difahami oleh setiap masyarakat Islam khasnya masyarakat Besilam dan Aceh Tamiang.
Manuskrip karya-karya Syeikh Shaykh Muim yang telah dijumpai:
1. Kitab fikah Ighatsatul Muqallidin. Kitab ini terdiri daripada tujuh jilid, kandungannya membicarakan perkara-perkara asas dalam fikah, antaranya adalah: tentang thaharah, air, istinja’, najis, wudhu’, al-muharramat (perempuan-perempuan yang haram dikahwini), al-mashu ‘ala al-huffain, mandi, tayammum. Dalam kitab al-Shalat dibahas tentang syarat-syarat wajib sembahyang, syarat-syarat sah sembahyang, rukun-rukun sembahyang, sunan-sunan sembanhyang, sebab sujud sahwi, sujud syukur. Di dalamnya di bahas juga tentang sembahyang berjama’ah dan faedah-faedah sembahyang jama’ah. Kandungan berikutnya adalah pembahasan tentang zakat, syahid dan janazah serta perkara-perkara yang berkaitan dengan ketiganya serta perkara-perkara lainnya yang berkaiatan dengan hokum-hukum fiqh.
2. Kitab tajwid, kandungannya membahas ilmu tajwid.
3. Khutbah jum’at. Judul-judul yang terdapat dalam Majmu’ Khutbah karya Shaykh Muim di antaranya membicarakan tentang bulan Sya’ban, Rabi’ul Awal, khutbah Aidil Fithri, khutbah Aidil Adha, keutamaan sembahyang berjama’ah, ibadah haji dan keutamaan ilmu pengetahuan.
4. Majmu’ al-Syatwiyah, kandungan buku ini berisikan tentang lagu dan sya’ir yang bercorak pujian-pujian kepada Allah, selawat dan lain-lain sejenisnya, antaranya Babussalam Kampung Halamanku, Babussalam jaya, Maulid al-Rasul, Nur Tajalli, al-Jihad Fi Sabilillah.
5. Al-Muallifat al-Qasimiyyh Ldhobthi Ilmu al-’am al-Umumiyyah, kandungan kitab ini membicarakan tentang tauhid, fikih dan tasawwuf. Di dalam kitab ini juga ditemukan syair dan lagu-lagu karangan beliau serta beberapa perkara-perkara lainnya, seperti khutbah jumat, doa’doa dan lain-lainnya. Buku setebal 177 muka surat ini beliau tulis pada 13 Rejab 1393H/12 Ogos 1973M di Babussalam dan diselesaikan pada hari Isnin 7 Zulhijjah1393H/1 Januari 1974M di Babussalam.
6. Al-Hal al-Nasyiah al-Mutaraddifah, kandungannya berupa al-Tafsir, al-Hadit dan Nahwu. Kitab setebal 176 muka surat ini juga menyinggung tentang politik, peraturan-peraturan di rumah suluk, hri-hri besar dalam Islam dan hari-hari besar i luar Islam. Di dlamnya terdapat ilmu perubatan berdsarkan ayat-ayat al-quran al-karim serta perkara-perkara lainnya. Permulaan buku ini ditulis pada hari khamis 7 shafar 1397H/27 Januari 1977 di Babusslam dan diselesaikan pada hari rabu 9 zulqadah 1398H/11 Oktober 1978M di babussalam.
7. Daftar al-Naql min al-kutub al-Syatwiyah fi al-din. Kandungan kitab setebal 22 muka surat ini membicarakan tentang kata-kata yang mengandung hikmah dan istilah-istilah dalam bahasa arab, di dalamnya juga dibincangkan tentang tanda-tanda hari kiamat. Kitab ini beliau tulis di Babusslam pada 7 shafar 1396H/7 Februari 1976M, dan diselesaikan pada hari khamis 29 jumadil Awal 1399H/26 April 1979M di Babusslam.
8. Al-Thariqah, buku ini mengandung senarai nama-nama orang yang mengambil tarekat (naqsyabandiyah) kepada beliau. Buku ini ditulis pada hari ahad 6 ramadhan 1397H/21 Ogos 1977M di Babusslam. Buku ini merupakan jilid ke dua sedangkan jilid pertama belum lagi ditemukan.
9. Al-Tarasul, kandungan buku ini adalah tentang surat menyurat. Jilid pertama belum lagi ditemukan. Jilid kedua mulai tulis pada hari rabu 9 Syawal 1400H/20 Ogos 1980M di Babusslam.
10. Sebuah kitab yang berisikan beberapa al-Fan atau bahagian. Al-Fan al-awwal fi al-Ad’iyah wa al-Aurad (bahagian pertama membicarkan tentang doa-doa dan wirid-wirid). Al-Fan al-Tsaniah fi al-Tafsir wa al-Hadist (bahagian kedua pada ilmu tafsir dan hadits). Al-Fan al-Tsalisah fi al-Syi’r wa al-Qashidah (bahagian ketiga pada menyatakan syi’r dan qashidah). Al-Fan al-rabi’ah fi ‘Ulum Syatta (bahagian keempat pada bermacam pengetahuan). Di dalam kitab ini juga ditulis tentang kamus bahasa melayu Babusslam.
11. catatan harian berjumlah 12 jilid.
12. Riwayat Hidup Shaykh Muim.
13. Silsilah keturunan Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan dan Shaykh Muim al-Wahhab.
14. Pelbagai catatan lainnya, seperti catatan tentang murid-murid atau khalifah-khalifah Shaykh Muim, anak-anak angkat dan lain-lainnya.
Tempat Mengajar
Tidak seperti kebanyakan ulama yang lain di zamanya, pada masa tinggal di Besilam, beliau tidak hanya aktif mengajar di madrasahnya sahaja, malah beliau aktif mengajar di masjid dan rumahnya serta di beberapa wilayah yang jauh daripada tempat tinggal beliau. Dan aktiviti dakwah beliau semakin banyak pada masa beliau hijrah dan tinggal di Aceh Tamiang. Beliau aktif berdakwah di 4 (empat) kecamatan yang terdiri dari 14 Desa.
Berikut senarai nama-nama desa tempat dakwah Shaykh Muim yang berada di empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang:
1. Kecamatan Kejuruan Muda, terdiri dari 3 desa, iaitu Rantau Pertamina, desa Rantau Pauh dan desa Alur Manis.
2. Kecamatan Kota Kwala Simpang, terdiri dari 2 desa, iaitu Kampung Durian dan Kota Lintang.
3. Kecamatan Karang Baru, terdiri dari 4 desa, iaitu Kampung Kesehatan, Kampung Suka Jadi, Tanjung Karang dan Tanah Terban.
4. Kecamatan Manyak Payet, terdiri dari 5 desa, iaitu Kampung Johar, desa Rantau Pane, desa Rantau Panjang, desa Medang Ara dan Opak.
Murid-murid
Ramai murid Shaykh Muim yang menjadi ulama dan tokoh yang bertebaran di pelbagai negeri. Mereka adalah generasi penerus penyebaran Islam. Sama ada murid-murid Shaykh Muim sendiri atau pun murid-murid beliau di Maktab Musawiyah ataupun murid-murid Sekolah Rendah Agama Islam (SRAI) yang beliau asaskan menurunkan murid yang ramai pula, sambung bersambung sampai sekarang ini. Bererti pahala amal jariyah untuk Shaykh Muim berjalan terus kerana ilmu bermanfaat yang disebarkan dan madrasah tempat belajar ilmu yang melahirkan para ulama dan tokoh.
Murid-murid Shaykh Muim yang pernah saya temui meriwayatkan bahawa orang yang pernah belajar dengan Shaykh Muim semuanya mendapat kedudukan dalam masyarakat. Apabila seseorang murid itu lebih berkhidmat kepada beliau maka ternyata akan lebih pula ilmu yang diperolehnya. Demikian juga kedudukan dalam masyarakat. Yang dimaksudkan berkhidmat di sini ialah ada yang pernah mengambil air untuk sembahyang atau untuk mandi dan air bagi keperluan bersucinya sesudah buang air besar.
Di antara murid-murid Shaykh Muim yang menjadi ulama dan mempunyai kedudukan dalam masyarakat yang sempat yang sempat saya temubual, adalah: Shaykh al-Haj cAbd Muthalib, beliau adalah seorang Shaykh atau Mursyid tarekat di Rokan Hulu, Muara Musu, Riau. Khalifah ke-3 Shaykh Muim ini telahpun berhasil mendirikan sebuah persulukan “Serambi Babussalam” di tempat asalnya tersebut.
Khalifah (Shaykh) Mudo ibn Adam adalah di antara murid beliau yang lain lagi. Penulis bertemu dengannya di rumah persulukan Besilam Babussalam pada peringatan Haul Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan yang ke-83. Penulis tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada beliau, melihat kondisinya yang sangat tua dan tidak begitu sihat. Walaupun umurnya hampir mencapai 90 tahun akan tetapi semangatnya tidak pernah pudar. Beliau telahpun berhasil membangun dua rumah suluk yang beliau namakan “Madrasah Darussalam”, yang pertama di Batang Ibul Desa Bangko Kiri Kec. Bangko Pusako Rokan Hilir, Riau. Kedua di Desa Sungai Masah Kec. Bangko Rokan Hilir, Riau.
Murid Shaykh Muim yang lainnya adalah Shaykh al-Haj Junaid al-Bagdadi Sirait. Beliau adalah khalifah ke-12 Shaykh Muim yang mempunyai kedudukan mulia di masyaraktnya. Sebagaimana murid-murid yang lain, Shaykh Junaid juga mempunyai rumah persulukan “Istiqomah” di Desa Maligas Tongah Kec. Tanah Jawa Kab. Simalungun Sumatera Utara.
Di antara murid Shaykh Muim yang selalu penulis temui adalah Khalifah cAbd al-Wahhab Ghaffar. Beliau adalah orang kepercayaan Shaykh Hasyim al-Syarwani dalam memimpin persulukan terbesar di Nusantara bahkan Asia yang berada di Besilam Langkat. Meskipun umurnya sudah mencapai 79 tahun tetapi beliau sangat tekun beribadah. Orang-orang suluk sangat hormat kepadanya. Dalam setiap pertemuan dengannnya, penulis sentiasa mendapatinya berada dalam khalwatnya.
Shaykh al-Haj Wan Nurdin ibn al-Haj Nasaruddin adalah murid Shaykh Muim yang paling ternama dan cukup disegani baik oleh kalangan masyarakat awam mahupun kerajaan Rokan Hilir Riau. Beliau cukup berhasil dalam membangun dan membina rumah persulukannya di tempat asalnya Muara Rumbang Kec. Rembah Hilir Kab. Rokan Hilir, Riau. Melalui beliau penulis dapat berjumpa dengan murid-murid Shaykh Muim yang lainnya.
Ada seorang murid yang tidak mungkin terlupakan dalam deretan murid-murid Shaykh Muim. Beliau adalah di antara tokoh masyarakat yang cukup dihormati oleh masyarakat Besilam Babussalam, Mak Malik, begitu beliau dipanggil. Nama penuhnya adalah Khalifah al-Haj cAbd Malik Sacid ibn Faqih Tuah. Beliau adalah pemegang kunci sekaligus menerima para tetamu yang datang untuk berziarah ke makam Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan. Penulis banyak mendapatkan data-data Shaykh Muim dari beliau.
Demikian beberapa orang murid Shaykh Muim yang berhasil dijumpai. Semua murid Shaykh Muim yang penulis temubual mengatakan bahawa guru mereka tersebut adalah seorang Shaykh yang calim, seorang mursyid yang wara’ lagi zuhud, bahkan Shaykh Junaid mengatakan kalau gurunya tersebuat adalah seorang Wali Allah. Shaykh Muim terkadang mengetahui apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang suluk, padahal beliau (Shaykh Muim) jauh dari mereka, demikian al-Junaid menambahkan.
b. Sebagai seorang sufi
Seperti telah disebutkan di atas bahawa Besilam adalah pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah yang banyak melahirkan khalifah-khalifah dan mursyid-mursyid kenamaan. Shaykh Muim adalah di antara mursyid Tarekat tersebut. Kepemimpinannya telah membawa nuansa baru, terutama kemampuan dalam menjalankan peraturan-peraturan yang berlaku dalam ajaran tarekat. Beliau terkenal tegas dalam menjalankan disiplin, terutama yang berlaku dalam rumah suluk sebagai tempat riyadhat para salikin. Beliau tidak segan-segan menindak atau mengusir si salik dari rumah suluk jika kedapatan bersalah.
Shaykh Muim adalah mursyid Tarekat Naqsyabandiyah yang salasilah pengambilan tarekatnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kelebihannya dalam tarekat ini ialah beliau menerima baiat dan bersuluk dari dua Shaykh mursyid, yakni Shaykh Faqih Junaid di Rantau Kwala Simpang dan Shaykh cAbd Manan Seregar Murid dan Khalifah Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan. Kiprahnya dalam mengembangkan tarekat ini di wilayah Sumatera dinilai cukup berhasil.
Dalam Salasilah Tarekat Naqsyabandiyah, Shaykh Muim adalah salasilah yang ke 34 dari guru tarekat Naqsyabandiyah. Puncak tertinggi dari salasilah itu adalah nabi Muhammad s.a.w. kemudian Abu Bakr a.s. yang disusul Salman al-Farisi. Sedangkan salasilah di atas Shaykh Muim adalah Shaykh cAbd Manan Seregar kemudian Shaykh cAbd al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi.
Berikut adalah salasilah tarikat naqsyabandiyah yang sampai kepada Shaykh Muim al-Wahhab:
1. Nabi Muhammad (s.a.w.)
2. Abu Bakr al-Siddiq (r.a.)
3. Salman al-Farisi (r.a.)
4. Qasim bin Muhammad
5. Imam Ja’far Shadiq
6. Abu Yazid al-Busthami
7. Abu Hasan cAli Ja’far al-kharqani
8. Abu cAli bin al-Fadhl bin Muhammad al-Thusi al-Farmadi
9. Abu Ya’kub Yusuf al-Hamdani bin Ayyub bin Yusuf bin Husin
10. ‘Abd Khaliq al-Fajduani bin al-Imam ‘Abd Jamil
11. cArif al-Riyukuri
12. Mahmud al-Anjiru al-Faghnawi
13. cAli al-Ramituni
14. Muhammad Baba al-Samasi
15. Amir Kulal bin Sayyid Hamzah
16. Bahauddin Naqsyabandi
17. Muhammad Bukhari
18. Ya’kub Yarki Hishari
19. ‘Abdlah Samarkandi (Ubaidillah)
20. Muhammad Zahid
21. Muhammad Darwis
22. Khawajaki
23. Muhammad Baqi
24. Ahmad Faruqi
25. Muhammad Ma’sum
26. ‘Abdlah Hindi
27. Dhiyaul Haqqi
28. Isma’il Jamil al-Minangkabawi
29. ‘Abdlah Afandi
30. Shaykh Sulaiman
31. Sulaiman Zuhdi
32. cAbd al-Wahhab Rokan al-Khalidi Naqsyabandi
33. Shaykh cAbd Manan Seregar
34. Shaykh Muim al-Wahhab al-Khalidi al-Naqsyabandi
2.7 Hijrah ke Aceh Tamiang
Shaykh Muim adalah di antara ulama yang turut mewarnai perjalanan sejarah perlawanan terhadap penjajah, khasnya di Langkat. Meskipun tidak terlibat langsung pada masa perjuangan fisik, Shaykh Muim aktif berjuang menentang penjajah dengan apa yang boleh dilakukan. Perjuangan beliau dalam menentang penjajah akan dibincangkan pada bab berikutnya.
Pada saat Kerajaan Langkat mendapat ancamana keaamanan dari penjajah Belanda, iaitu ketika secara mengejutkan Belanda sudah sampai di Tandam Hilir, suatu tempat berjarak 40 km dari Besilam. Shaykh Muim mengambil langkah baru mencari tempat pengunsian (hijrah). Rantau Kwala Simpang Aceh Tamiang adalah daerah alternative dan memiliki ruang gerak yang relatif bebas dalam meneruskan perjuangan kemerdekaan dan dakwah Islam. Kesempatan ini telah digunakan Shaykh Muim untuk melakukan perjalanan hijrah ke sana.
Penghijrahan Shaykh Muim bersama-sama keluarganya dari Besilam ke Rantau Tamiang dilakukan pada tahun 1946 M. Shaykh Muim memulai hidup baru dan selanjutnya Shaykh Muim aktif berdakwah di sana sehingga tahun 1972 M. Adapun partai Masyumi yang diasaskannya, beliau serahkan kepada ‘Abd Manan Anis yang menjadi ketua dua pada masa itu.
Kesimpulan
Walaupun Shaykh Muim al-Wahhab tidak meninggalkan hasil-hasil karya yag besar dalam mana-mana bidang pengajian Islamiah, namun jasa beliau yang paling besar ialah kejayaannya melahirkan satu angkatan ulama/khalifah yang berkualiti di pertengahan abad dua puluh. Beliau juga telah berjaya membawa kemuncak pengajian Madrasah Musawiyah di Langkat dan Sekolah Rendah Agama Islam di Rantau Kwala Simpang Aceh Tamiang. Keahlian beliau dalam bidang al-Qur’an dan fikah merupakan legenda sehingga zaman ini.
Tidak seperti kebanyakan ulama yang lain di zamanya, Shaykh Muim tidak hanya aktif di sekitar masjid atau madrasahnya sahaja, malah aktif dalam bidang kegiatan kemasyarakatan.
Semoga Allah (s.w.t) membalas segala jasa dan pengorbanan Shaykh Muim sepanjang hayatnya dalam usaha menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Beliau telah mewakafkan dirinya dalam jalan dakwah dan melakukan perkara yang tidak mampu dilakukan oleh sebahagian besar ulama yang sezaman dengannya. Mengharungi liku-liku hidup selaku pejuang agama yang mempunyai keikhlasan sejati.
Demikian pembacaan penulis terhadap usaha dan karya Shaykh Muim ini. Segala yang kami tuangkan dalam tulisan ini adalah merupakan sebuah pandangan sederhana yangingin berpihak kepada kebenaran dan menjauhi dari sikap berat sebelah. Apapun hasilnya, Allah (s.w.t) maha tahu terhadap mereka yang tulus membela agama-Nya dan Dia maha tahu pahala apa yang layak diberikan-Nya.
Wassalam
zikmal fuad
assalamu’alaikum w.w
Setahu saya di tebing tinggi,tepatnya di jalan bani hasyim yang ada Syaikh Hasyim Al kholidi Naqsyabandiah not Tuanku Haji
informasi lebih lanjut jl bani hasyim No.1… H. Ibrahim Hasyim mohon informasinya
subhanallah, semakin banyak saja pengetahuan saya. terima kasih informasinya Pak Irwin
Mohon ijin, bang!
Laman ini saya taut ke blog saya karena banyak keluarga di luar Sumatra -termasuk malaysia - yang juga ingin tahu lebih banyak tentang Tanjung Pura pada umumnya dan perguruan Besilam khususnya.
Terima kasih atas perhatiannya.
Salam,
NS
Ass. wow bagus juga ada tulisan tentang Syekh Besilam. Saya jadi teringat dengan Skripsi S1 saya yang membahas Tentang Syekh Abdul Wahab Rokan Al Qalidy Naqsabandy (Syekh Besilam). Skripsi itu saya buat tahun 1987 yang silam, dan sudah pernah artikelnya diterbitkan dalam Majalah Pusat Pengkajian Melayu, University Kebangsaan Malaya.
Kalau saudara-saudara ingin lebih jauh memahami ketokohan beliau, saya berencana menerbitkannya menjadi sebuah buku.
wahai saudara2 ku, dalam hal penulisan mohon diperbaiki/ ralat, terutama penulisan nama-nama para ulama besar itu. awas menyesatkan………..
bila tak bersumber yang jelas dan atau dalam hal pembacaan sumber. mohon diperhatikan oleh pengelolah.
nama-nama para ulama yang ada pada silsilah aslinya dari huruf arab (melayu), so awas salah eja………..(menyesatkan)
Assalamualaikum…
Bolehkah saudara tolong saya mencari artikel tentang Haji Yahya Laksamana al-Khalidi an-Naqsyabandi…
Di harap kalian dapat membantu ya…
-Rakan Serumpun Di Malaysia-
nak tau pasai syekh yahya Laksamana al-Khalidi an-Naqsyabandi pergi ke tmn naqsyabandi, kajang…
11 syawal ada majlis khatam suluk dan hol syekh yahya….