Pejuang Dunia Sunyi SK Trimurti
KOMPAS - Senin, 10 September 2007
Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana P
Tubuhnya terkulai di tempat tidur. Selang makan dipasang di lubang
hidung. Matanya hampir selalu terpejam. Sesekali suara napasnya meningkahi
sunyi ruang VIP Anggrek di RS PGI Cikini, Jakarta, tempat Soerastri Karma
Trimurti (95) dirawat tiga pekan terakhir ini.
Ketika Sainah (46) memberi tahu ada yang berkunjung, Bu Tri, begitu ia
disapa, mengeluarkan suara yang jelas, dalam bahasa Jawa, “Kowe sapa Ndhuk?”
(Kalian siapa, Nak?)
Jawabannya tidak terlalu berarti karena tampaknya ia kembali tenggelam
di dalam dunianya yang sunyi, entah di mana. Kadang, seperti diceritakan
Sainah, yang mendampinginya 25 tahun terakhir, Bu Tri melantunkan tembang
Sigra Milir, lagu Jawa yang syairnya berisi cerita tentang legenda Joko
Tingkir.
Kali lain ia menyanyikan lagu-lagu dolanan bocah di Jawa, seperti
Ilir-ilir, atau seperti ditirukan Sainah, “Saya lupa judulnya, itu lho…
Aduh Yu Truno.. kathokku copot, enggal benekna.” (Aduh Yu Truno, celanaku
lepas, tolong dibetulkan).
Sesekali Bu Tri membuka matanya, tetapi lalu memejam lagi. Jari-jari
tangannya masih bisa menggenggam tangan orang yang menyentuhnya.
Kata Sainah, Bu Tri suka berontak, dengan menggaruk-garuk tubuhnya,
dan menarik selang makan. Mungkin karena itu kedua tangannya diikat longgar
dengan kain. Posisi tidurnya telentang dengan dua tangan melencang.
Pejuang
Sudah dua tahun terakhir ini perempuan yang pernah menjadi Menteri
Perburuhan pada Kabinet Amir Syarifuddin I dan Kabinet Amir Syarifuddin II
itu berada dalam kondisi seperti itu, setelah berkali-kali terjatuh. Kata
putra bungsunya, Heru Baskoro (65), tahun 2000, Bu Tri jatuh sehingga harus
dicangkok besi tulang pinggulnya.
Kerapuhan tubuh ibu dua anak, nenek dua cucu, dan buyut dari satu
cicit ini, selain faktor usia, tampaknya juga dipengaruhi peristiwa tabrakan
hebat pada tahun 1994. Menurut Heru, mobil sampai harus digergaji untuk
mengeluarkan tubuh Bu Tri.
“Orang menyangka Ibu meninggal saat itu,” kenang Heru. Bu Tri dirawat
berbulan-bulan di rumah sakit, tetapi ia bertahan. Hanya, setelah itu, ia
harus memakai tongkat kalau berjalan.
“Sebelum itu, Ibu masih pergi ke mana-mana. Pada usia 82 tahun Ibu
masih naik bus,” lanjut Heru. “Pekerjaan di rumah juga dilakukan sendiri,
cuci piring, cuci baju,” ujar Sainah.
Hidupnya sederhana. Sebagai mantan menteri, Bu Tri sebenarnya berhak
atas rumah di kawasan Menteng, tetapi ia memilih Jalan Kramat Lontar. “Dekat
kampung. Ibu lebih suka tinggal dekat rakyat, dan ia inginnya jadi rakyat
biasa. Itu sebabnya, Ibu menolak ketika ditawari menjadi Menteri Sosial,”
tutur Heru.
Sejak dirawat di rumah sakit tahun 2005 selama setahun, Bu Tri harus
dibantu semuanya. “Ibu mau makan?” Sainah menawari, “Aku durung luwe (Aku
belum lapar),” jawab Bu Tri. “Kalau makan pakai selang cukup banyak. Kalau
langsung, hanya sedikit sekali,” lanjut Sainah.
Kata Heru, mengutip diagnosis dokter, di perut ibunya ada semacam
varises. “Jantungnya bagus, paru-paru bagus. Ibu sakit tua,” katanya.
Ingatan Bu Tri timbul tenggelam. Ia ingat anaknya, tetapi tak ingat
cucunya, apalagi cicitnya. “Dia masih ingat Bung Karno dan Ali Sadikin,”
sambung Heru.
Nama SK Trimurti tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa dan punya
tempat khusus dalam sejarah pergerakan perempuan. Putri pasangan R Ngabehi
Salim Banjaransari dan RA Saparinten binti Mangunbisomo yang dilahirkan di
Boyolali, Jawa Tengah, tanggal 11 Mei 1912 itu tertarik masuk ke dunia
pergerakan setelah mendengarkan pidato-pidato Bung Karno.
Ia mengikuti kursus kader yang diadakan Soekarno dan Partindo (Partai
Indonesia) tahun 1933 setelah lulus dari Tweede Indlandche School atau
Sekolah Ongko Loro dan sempat mengajar. Bu Tri menjadi pejuang militan,
sampai dipenjarakan Belanda di Semarang tahun 1936 karena menyebarkan
pamflet antipenjajah.
Ia kembali masuk penjara tahun 1939 karena tulisantulisannya di media
massa dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Saat itu ia baru setahun
menikah dengan Sayuti Melik, tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan
proklamasi, dan mengetik naskah proklamasi.
Anak pertamanya, Moesafir Karma Boediman (meninggal tahun 2005), lahir
dalam penjara. Bu Tri baru keluar dari penjara pada tahun 1943.
Dialah perempuan berkebaya yang membelakangi kamera di sebelah kanan
Fatmawati Soekarno dalam foto pengibaran Sang Merah Putih seusai pembacaan
naskah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.
Hubungan Bu Tri dengan Bung Karno terganggu ketika Bung Karno menikahi
Hartini. Bu Tri dikenal antipoligami. Namun, sikap itu tak menghalangi
Soekarno memberikan Bintang Mahaputra Tingkat V kepadanya.
Tahun 1956 ia memimpin Gerakan Wanita Sedar (Gerwis), cikal bakal
Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Ia pernah diutus Dewan Perancang
Nasional (sekarang Bappenas) ke Yugoslavia untuk mempelajari manajemen
pekerja. Kegiatannya hingga usianya mendekati 80 tahun masih penuh. Ia ikut
menandatangani Petisi 50 tahun 1980.
Tidur tenang
Sebelum dirawat di RS Cikini, Bu Tri dirawat di RS MMC dan di RS Mitra
Keluarga. “Waktu di Mitra Keluarga itu dibantu seluruhnya oleh Pak Fauzi
Bowo,” ujar Heru.
Biaya rumah sakit pada tahun 2005, menurut Heru, banyak dibantu oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Sekretariat Negara, selain bantuan
Departemen Sosial. Ketika di RS MMC, keluarga mendapatkan bantuan dari
Departemen Sosial sebesar Rp 10 juta.
“Biaya yang sekarang masih belum tahu,” ujar Heru. Acara Peluncuran
Buku 95 Tahun Perjuangan SK Trimurti yang dihadiri antara lain oleh Guruh
Soekarnoputra dan Herawati Diah di Jakarta, beberapa waktu lalu, juga
digunakan untuk mengumpulkan dana, dengan menjual edisi hard cover-nya
seharga Rp 1 juta per buku.
Sayuti Melik berpulang tahun 1989. “Mungkin Ibu menangis di kamar,
tetapi saya tak pernah melihat Ibu menangis di depan umum,” ujar Heru.
Sekarang pun, Bu Tri terlihat tidur tenang, seperti tenggelam dalam
dunianya sendiri. Hanya sesekali ia kembali dan menggumamkan tembang, lir
ilir lir ilir…
DIarsipkan di bawah: Artikel















Berikan pada saya 10 milyad untuk saya invest di usaha padat karya.
Selebihnya 990 milyard dapat digunakan untuk pendidikan kejuruan, terutama untuk alat2 praktikum dan pelatihan guru-gurunya. Maklum pendidikan kejuruan yang diperlukan oleh usaha ekonomi sektor riel kekurangan guru yang bermutu dan peralatan praktikum.