Ketika Cinta Diperdebatkan
Oleh: Nurjanah Laila
“ Cinta ? Tahu apa kamu tentang cinta ? Cinta itu absurd , ilusi orang-orang bodoh yang tak punya harapan. Khayalan sesaat yang nggak bisa dibuktikan eksistensinya. Bagiku cinta itu tak ada. Cinta itu dongeng pengantar tidur. Hanya melenakan saja. Fungsinya sebagai tempat sampah para pengagumnya. Pembuat puisi cengeng , penyanyi melankolis dan pencipta lagu kacangan. “
“ Cinta ? Cinta monyet , cinta palsu , cinta lokasi , cinta materi , cinta seksual , cinta apalagi namanya. Cinta itu keluar dari logika. Bosan ! “ sahutnya sambil bersungut-sungut kesal.
“ Tapi Don , kamu bilang begitu karena belum pernah merasakannya. Cinta itu bukan untuk dipikirkan atau hanya untuk diketahui , tetapi harus dialami dan diselami. Cinta bukan hanya kata benda tetapi kata kerja , “ jawabku berapi-api.
“ Ah , persetan dengan cinta. Tanpa cintapun manusia bisa lahir ke dunia. Cuma lewat kontak seksual. Coba kau pikir Roy , ketika pria dan wanita berhubungan seks , mereka pasti tak berpikir tentang cinta. Yang ada di kepala mereka hanya soal nafsu dan kepuasan. Bagaimana agar hasrat itu tersalurkan. Selesai. Ya sudah , “ cetus Dony lagi.
Kulihat wajahnya makin menegang. Tangannya digerak-gerakkan mirip orator. Dia berkicau lagi. Kurasa perdebatan makin memanas.
“ Kau bisa berteori tentang cinta. Walau sesungguhnya cinta itu bukan sekedar teori tetapi pengalaman. Sufi agung Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa cinta itu sesuatu yang tak bisa dipelajari , tak bisa didefinisikan , tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Cinta itu sesuatu yang tak terselami. Cinta itu tak bisa dilukiskan dengan apapun. “ tegasku.
“ OK , beri aku waktu untuk membuktikan apakah cinta itu ada , bukan khayalan semata.
“ Baiklah kawan , semoga sukses ! “ sahutku.
Seminggu berlalu , dua minggu , sebulan , dua bulan , temanku yang satu ini belum kelihatan juga. Walau dia keras kepala dan agak egois , sesungguhnya dia seorang lawan diskusi yang baik. Jalan pikirannya memang kontroversial menurutku , tetapi dia seorang yang jujur pada diri sendiri. Aku suka pada idealismenya.
Suatu hari , kami bertemu lagi sejak pertemuan terakhir dua bulan lalu. Kali ini wajahnya lebih cerah tak seperti biasanya , kusut. Penampilannya lebih rapi dan tutur katanya santun sekali. Rambut gondrongnya yang dulu jarang disisir , sekarang dipotong pendek klimis. Ketika dia datang ke tempat kosku di Pondok Indah , aku mengusap-usap mataku seperti tak percaya. Betulkah dia Roy yang kukenal dulu. Kami memang kuliah di tempat yang sama , di sebuah Universitas Islam terkenal di Jakarta. Kebetulan kami berasal dari kota yang sama pula , Bandung. Saat mengetuk pintu , ia mengucap salam :
“ Assalamu’alaikum , Roy “
“ Waalaikumsalam , Dony ? Ini benar-benar kamu ? Kumaha wartosna , 1mangga calik di dieu. “ 2
“ Sumuhun , 3 ini memang aku sahabatmu. Aku kangen padamu , sobat. “
Dia memelukku erat. Wajahnya berbinar-binar.
“ Subhanallah , Don. Penampilanmu berubah 180 derajat. Aku belum yakin kalau ini kamu , “ candaku.
“ He…he…he…” tawanya memecah kesunyian.
“ Cinta itu indah. Love is beautiful. Cinta membuat segalanya jadi mempesona. Karena cinta membuatku bersemangat untuk hidup. Cinta adalah kekuatan yang bisa mengubah sesuatu menjadi lebih bermakna. Cinta adalah cinta itu sendiri. Cinta tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Cinta itu seperti menyelam ke dalam lautan yang tak berdasar dan bertepi. Cinta adalah misteri yang tak terpecahkan. Cinta adalah….”
Dia tak meneruskan kalimatnya karena segera kusambung :
“ Sesuatu yang tak terlihat tetapi hanya bisa dirasakan kehadirannya. Cinta membuat seseorang jadi lebih tegar dalam menjalani hidup. “
“ Eh Don , sejak kapan kamu menjadi pujangga cinta seperti Rumi dan Shakespeare aja. “ kataku.
Dony terdiam sejenak , seperti mengingat-ingat sesuatu. Kening dan alisnya dikerutkan. Sebentar-sebentar dia menghela napas. Wajahnya bersemu merah.
“ Sejak aku bertemu dengannya aku percaya ada cinta yang lebih dari sekedar nafsu atau hasrat sesaat. Dante , sastrawan Italia bilang kalau cinta itu perpaduan antara il desiro dan il velle , yaitu hasrat yang kuat dan kerja keras. Aku yakin cinta adalah naluri dari dalam yang merubah seseorang menjadi lebih positif dari sebelumnya. Cinta itu nggak cuma datang dari langit tetapi harus diperjuangkan dengan kerja keras , gitu looohhh…! “ ujarnya bersemangat.
Aku tertawa keras sambil menepuk punggungnya. Dalam berargumen , Dony selalu bersemangat. Aku sungguh tak percaya temanku ini sangat fasih bicara tentang cinta. Dari seorang yang menihilkan cinta menjadi pemuja cinta. Pasti ada sesuatu yang mengubahnya.
“ Sebentar , aku keluar dulu ke warung sebelah. Mau pesan minuman dan snack. Pasti deh kamu haus. Tunggu ya ? cetusku sambil bergegas.
Aku kembali membawa dua botol Coca Cola dan sebungkus pisang goreng.
“ Ayo , diminum dong. Tuh pisang gorengnya masih hangat. “
“ Terimakasih. “ sahutnya lagi.
“ Don , aku jadi penasaran nih , siapa sih orangnya yang membuatmu jadi pujangga cinta. Yang aku salut , dia berhasil merubahmu menjadi lebih rapi. “
Dia tak menjawab gurauanku. Lalu dia membuka tas ranselnya dan mengambil sebatang rokok , membakarnya dan menghembuskannya kuat-kuat. Tatapannya menjelajah dinding kamarku seakan mencari jawaban di sana.
“ Roy , kamu pernah jatuh cinta ? tanyanya tiba-tiba.
“ Aku ? Pernah , dengan seorang gadis. Kakak kelasku waktu SMU dulu. Aku kelas satu , dia kelas tiga. “
“ Trus bagaimana selanjutnya ?
“ Terang saja cintaku ditolak mentah-mentah. Karena aku dianggapnya aku belum dewasa. Bagiku , dia adalah cinta pertamaku. Walau tak berbalas , aku tak kecewa. Prinsipku lebih baik jatuh cinta dan gagal daripada tidak pernah jatuh cinta samasekali. “
“ Memangnya kamu jatuh cinta sama siapa , Don ? “
“ Itulah yang kualami sekarang. Ah…cinta memang indah tetapi kadang membuat orang jadi susah. Susah tidur , susah makan , susah berkonsentrasi. Cinta itu aneh. Begitulah kenyataan yang tak bisa kutolak. Kata orang bijak , penyakit cinta obatnya adalah cinta itu sendiri. “
“ Tetapi Don , kurasa jatuh cinta dan mencintai itu beda. Jatuh cinta adalah proses yang dimulai ketika kita bertemu dengan orang yang kita sukai. Jantung berdebar-debar saat menatapnya. Wajahnya selalu terbayang setiap saat , bahkan dalam mimpi. Kita juga kerap menyebut namanya. Mencintai adalah ketika kita telah berada dalam tahap pendewasaan , saling mengerti , saling berbagi , saling percaya dan setia. Cinta yang sudah menemukan dirinya sendiri. Cinta yang bebas dari egoisme , hanya memberi bukan berharap. Cinta yang dalam, tidak dangkal. Cinta yang menyempurnakan , bukan menuntut. “ tegasku.
Kulihat Dony sebentar-sebentar memegang perutnya. Jam dinding menunjukkan pukul 12.30. mentari Jakarta semakin terik.
“ Kenapa Don , sakit perut ?
“ Nggak Roy , aku lapar nih ! “ Kita cari makanan yuk. Kali ini aku yang traktir , OK ? “
“ OK deh…” jawabku.
Siang itu , berakhirlah perdebatan tentang cinta yang substansial di restoran Padang karena kami makan di sana.
Jakarta , 4 Agustus 2005
Catatan:
1 Bahasa Sunda : apa kabar
2 Bahasa Sunda : silakan duduk di sini
3 Bahasa Sunda : ya
DIarsipkan di bawah: Cerpen














