Tuduhan bahwa Adam Malik Agen CIA, Lemah

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/25/sh02.html

Jakarta – Data yang mengatakan mantan perdana menteri Adam Malik sebagai Agen CIA dinilai sangat lemah karena hanya berasal dari satu narasumber. Buku itu sebaiknya disikapi secara dewasa, sebagai bagian dari proses pendewasaan bangsa. Sejarawan Anhar Gonggong mengemukakan hal itu kepada SH, Senin (24/11).
Anhar berharap masyarakat tidak perlu terlalu reaktif menyikapi isi buku tersebut. Sebaliknya, cukup menjadikannya bahan pembelajaran saja. ”Terima saja secara dewasa, menjadikan buku tersebut sebagai bagian dari proses pendewasaan. Jangan dicekal atau dibakar karena bagaimana pun sebuah buku pasti dapat memberikan sesuatu kepada kita,” ujar Anhar.
Anhar mengatakan untuk mencapai suatu kesimpulan sejarah, kita masih perlu mengadakan kroscek data-data. Tidak bisa hanya mengandalkan sumber tunggal. Sementara itu, apa yang dikatakan buku itu tentang Adam Malik hanya bersumber dari seorang mantan petinggi Central Intelligence Agency (CIA).
Dia sendiri meragukan kebenaran buku tersebut sebab secara ideologis Adam Malik bertentangan dengan ideologi Amerika Serikat (AS). ”Dia itu seorang sosialis dan nasionalis-Marxis, pengikut Tan Malaka, jadi dari segi ideologi kecil kemungkinanya Adam Malik jadi mata-mata AS,” kata Anhar.
Selain itu sejak muda Adam Malik adalah seorang pejuang dan tokoh nasionalis. Namun, dia mengatakan, tetap ada kemungkinan apa yang diceritakan buku tersebut benar. Sebab, saat itu terjadi situasi perang dingin antara Blok AS dan Eropa Barat dengan ideologi liberal berhadapan dengan Rusia dan Eropa Timur yang komunis.
Dalam situasi ini AS bisa saja melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh berpengaruh. ”Kalau betul terjadi maka ini tragedi sejarah,” katanya.
Departemen Luar Negeri menilai, Adam Malik sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Hal tersebut diungkapkan Teuku Faizasyah, juru bicara Deplu RI saat dihubungi SH, Selasa (25/11). ”Terlepas bagaimana orang lain menilai Adam Malik, Deplu sebagai institusi yang pernah dipimpin beliau, mencatat beliau sebagai orang yang konsisten mengedepankan dan mendahulukan kepentingan bangsa dan negara,” kata Faiza.
Dia mempertanyakan tuduhan kepada mantan Menlu RI periode 1966-1978 tersebut. ”Kita tidak pernah mendengar dan mencatat hal-hal yang dituduhkan sebagaimana yang menjadi polemik saat ini,” tambahnya.
Adam Malik tercatat pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia di akhir tahun 1950-an. Dia juga pernah menjadi Ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia-Belanda, untuk penyerahan Irian Barat di tahun 1962. Saat menjabat Menlu, bersama rekan-rekannya dari Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand, Adam Malik turut memelopori terbentuknya ASEAN di Bangkok, Thailand pada tahun 1967. Dia juga pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ke-26 pada tahun 1971-1972 di New York, AS.
”Sangat disayangkan kalau terganggu oleh sinyalemen yang belum jelas kebenarannya,” kata Faiza mengacu pada rujukan yang sudah meninggal. ”Bagaimana bisa menjawab klarifikasi pihak keluarga nantinya,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Senin (24/11), mengatakan tidak yakin dengan kebenaran buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Wiener yang menyebutkan mantan Wakil Presiden Indonesia Adam Malik merupakan agen CIA untuk Indonesia.

Alasannya, basis politik Adam Malik yang seorang sosialis berbeda dengan basis politik yang dikembangkan AS.
Menurut Jusuf Kalla, Adam Malik merupakan orang yang pandai bergaul dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan siapa saja. Kemampuan dan jabatan yang pernah digenggam Adam Malik sangat memungkinkan baginya untuk memiliki banyak teman di berbagai kantor diplomat negara lain.
”Sebagai Wapres saya menyesalkan penulisan buku itu. Saya tidak bisa percaya dan tidak mungkin Pak Adam Malik itu menjadi seperti apa yang ditulis itu,” tegas Kalla.
Ketidakpercayaan Jusuf Kalla juga berangkat dari kepribadian dan pemikiran yang dikembangkan Adam Malik. Namun, ia menambahkan, akan mempelajari lebih lanjut maksud buku tersebut, dan kalau perlu akan meminta petanggungjawaban penulisnya.
”Tetapi, mana mungkin orang Murba jadi agen CIA. Mana orang AS percaya. Saya yakin tidak seperti itu,” jelas Kalla.
Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, tuduhan yang menyebut mantan Wakil Presiden Adam Malik sebagai agen intelijen AS (CIA) sangat spekulatif. Ini disebabkan media massa di barat, khususnya AS dan Eropa banyak yang terobsesi tentang keterlibatan CIA di dalam persoalan politik dan konflik di suatu negara. Oelh karena itu tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.
Tuduhan seperti ini pun juga bukan yang pertama kali. Dulu, Muhammad Hatta juga pernah dituding sebagai provokator pemberontakan PKI tahun 1948. Jadi, persoalan seperti itu tidak perlu terlalu digubris.
“Terlalu banyak kontroversi di masa lampau yang sering diungkap oleh orang atau kalangan media massa barat di seluruh dunia. Saya ingat, dulu Bung Hatta juga pernah dituduh pada tahun 1948 sebagai provokator, memancing pemberontakan PKI,” katanya seusai menerima Menhan RRC Jenderal Chi Wanchung, Senin.
Menyinggung soal peristiwa 1965, Juwono mengakui saat ini sudah ada enam versi buku. Buku tersebut ditulis kalangan kampus, sejarawan, maupun para pensiunan departemen.
Saat ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sepuluh tahun lalu, Juwono pernah meminta supaya sejarawan merevisi seluruh pelajaran sejarah Indonesia, mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, untuk diluruskan.
(vidi vici/inno jemabut/tutut herlina/
natalia santi)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.