Oleh: Wenri Wanhar
Dimuat Pertama kali di Harian Monitor Depok 22 April 2009
“Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jendral mitos-mitos tentangnya.” –Pramoedya Ananta Toer dalam roman Panggil Aku Kartini Saja.
Setiap tanggal 21 April, bangsa ini menggelar ritual tahunan memperingati Hari Kartini. Kemarin pagi, sewaktu sarapan, anak pemilik warung nasi uduk dekat rumah kontrakanku siap berangkat ke sekolah dibalut pakaian kebaya. “Di suruh bu guru om. Kan sekarang Hari Kartini,” selorohnya seraya berlalu setelah mencium tangan ibunya. Setiap pagi, itupun kalau bangun pagi, aku kerap mendapati gadis kecil itu berpakaian merah putih, rambutnya sedang disisir oleh ibu warung.
Kembali ke kontrakan, perempuan-perempuan berkebaya terlihat anggun membawakan acara-acara di televisi. Wawancara dengan kaum hawa, mulai dari yang terpinggirkan hingga yang menonjol disajikan silih berganti. Perhatian ekstra buat kaum perempuan. Ketika memacu si kuda besi, di beberapa Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang kulewati terlihat menggelar lomba busana busana adat. Lagu Ibu Kita Kartini, buah karya WR Supratman-pun berkumandang. Tidak hanya itu, di beberapa perkantoran ternyata juga mewajibkan para pekerja perempuan mengenakan kebaya. Katanya untuk mengenang Raden Ajeng Kartini—pahlawan emansipasi wanita.
Lamunanku melanglang buana kian kemarin. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Selain lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan meninggal tanggal 17 September 1904 di usia 25 sewaktu melahirkan putra pertamanya, apa lagi yang orang banyak ketahui tentang Kartini? Suatu hari aku pernah berbincang panjang lebar dengan seorang aktifis perempuan. Dia menguarai sedikit banyak tentang Kartini.
“Nama Kartini mulai dikenal luas ketika JH Abendanon, sahabat pena Kartini menyusun kumpulan surat Kartini dan menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis Tot Licht tahun 1911 sewaktu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda,” katanya. Surat-surat itu menggambarkan pemikiran Kartini. Saking ‘hebat’nya, buku itu sampai dicetak sebanyak lima kali, bahkan Agnes L Symmers menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Masih kata kawan tadi, 1922 Balai Pustaka menyajikan Door Duisternis Tot Licht dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Salah seorang penerjemahnya adalah Armijn Pane, sastrawan pelopor Pujangga Baru. “Buku ini dicetak sebanyak sebelas kali dan tahun 1938, Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dengan format berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda,” paparnya.
Aku kembali bertanya-tanya, apakah para siswa dan perempuan kantoran yang mengenakan kebaya, kemarin pernah membaca buku itu? Survey kecil-kecilan kulakukan dengan menjajaki pendapat mereka.
Alhasil, banyak yang mengaku pernah mendengar tentang buku Habis Gelap Terbitlah Terang tapi sama sekali tidak pernah melihat apalagi membacanya. Bukankah peringatan Hari Kartini akan lebih bermakna bila mengetahui buah pikirannya, mengingat perempuan yang diperistri oleh Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional bukan karena angkat senjata berjuang melawan Belanda, melainkan karena pemikirannya dalam buku itu. Bagaimana sebetulnya isi buku itu? Bab pertamanya bertajuk Dirudung cita- cita, dihambar kasih sayang tentang keterbelakangan perempuan Jawa dan harapannya menjadi seperti perempuan Eropa. Dia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat; tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agama. Dia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Menurut dia, dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” begitu tulisnya. Tidak sampai di situ, Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Dengan kenyataan itu, dia menilai lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan harus siap untuk dimadu. Gugatan dan kekritisan Kartini sebagai perempuan Jawa di bab pertama cukup menyeruak. Pada bab selanjutnya, dibahas pemikiran lulusan Europese Lagere School (ELS)–setingkat sekolah dasar tentang kendala yang harus dihadapi perempuan Jawa dalam menggapai cita-cita layaknya perempuan Eropa. Demikian kutipan suratnya kepada Nn. Zeehandelaar tertanggal 6 Nopember 1899; …Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu tentu aku tinggal di dalam terungku atau yang serupa itu. Bukan. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luas sekelilingnya tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana luasnya rumah dan pekarangan kami itu bila senantiasa harus tinggal di sana sesak juga rasanya. Teringat aku betapa aku oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga lalu menghempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu dan kepada dinding batu bengis itu. Arah kemana juga aku pergi, setiap kali putus juga jalanku oleh tembok batu dan pintu terkunci.
DIarsipkan di bawah: Berita














