Ditulis pada Juni 26, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Laila
Bunyi musik dangdut menghentak gendang telinga. Bau asap rokok dan ceracau celotehan para pemabuk yang mulutnya bau alkohol menjadi makanan sehari-hari. Di tempatku Pasar Kembang dahulu kala. Tempat orang berjualan kembang untuk ziarah. Kini menjadi tempat orang berjualan ’ kembang ’. Sepertiku ? Ya, sepertiku……. Aku primadona sarkem.
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Mei 10, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Hujan
Entahlah, bagaimana mungkin aku bisa meletakkan kebenaran dan kepalsuan di dalam satu jubah? Aku tak bisa menjawabnya, sama seperti aku tak bisa menjawab apakah alasan Rianti menghianati Drajat dapat dibenarkan atau tidak.
Perempuan itu baru saja datang padaku. Dengan mata yang sembab dan kuyu dia mengadukan perlakuan yang baru saja diterimanya. Oh, perempuan yang malang. [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | 5 Komentar »
Ditulis pada Mei 9, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Nurjanah Laila
“ Cinta ? Tahu apa kamu tentang cinta ? Cinta itu absurd , ilusi orang-orang bodoh yang tak punya harapan. Khayalan sesaat yang nggak bisa dibuktikan eksistensinya. Bagiku cinta itu tak ada. Cinta itu dongeng pengantar tidur. Hanya melenakan saja. Fungsinya sebagai tempat sampah para pengagumnya. Pembuat puisi cengeng , penyanyi melankolis dan [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Mei 9, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Hujan
(Untuk saudaraku yang telah diamukombak. Yaa Tuhan, beri mereka tempat di sisi-Mu)
IRING-IRINGAN mayat itu terus melangkah dengan anggun! Setiap tempat yang disinggahinya selalu ada saja yang berpartisipasi untuk ikut di dalam konvoinya. Menakjubkan! Mayat-mayat itu mengapung dalam kediaman yang anggun, kaku, pasrah. Mayat-mayat memenuhi pantai, mayat-mayat membanjiri jalan. Mayat-mayat menerobos kota. Benar-benar sebuah karnaval [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | 1 Komentar »
Ditulis pada April 7, 2008 oleh kapasmerah
Dear kasihku…
Kupersembahkan jiwaku untukmu…Saat ini, ketika aku diuji berpisah dari anak-anakku tersayang dan penguat hatiku, aku kemudian teringat padamu dan keindahan wajahmu yang terlukis di dalam cermin hatiku.
DIarsipkan di bawah: Cerpen, Puisi | 3 Komentar »
Ditulis pada April 6, 2008 oleh kapasmerah
Cerpen ini dipersembahkan untuk Madi dari Selena yang tewas ditembak Densus 88 Anti Teror Polda Sulteng, Sabtu (5/4) karena dituduh menyebarkan ajaran sesat. Cerpen ini perna dimuat sebelumnya di Situs Berita Rakyat Merdeka.
Semoga Madi dan pengikutnya yang tewas mendapat tempat di sisi Tuhan. Dan bagi pihak-pihak yang telah membid’ah kan dia, men-subversifkan dia, men-kriminalkan dia… [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Maret 12, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Fahrudin Nasrulloh
Mata areng rasa kecubung
Pecut lurik nyacah sirah
Manuk prenjak gawa tatal
Wani natah siung bajul
Ngaku dunung Gusti Nabi
Lambe delima ani-ani
Yo rineyo tak ladeni[1]
Serampung keduanya berdebat di paseban pondok Cepekan, disaksikan puluhan santri, dengan langkah tenang Kiai Hasan Besari[2] menghampiri Surabawuk, lalu berbisik santun dan takzim, mencoba menenangkan amuk nalarnya yang melanglang lepas. Jiwanya demikian ambang [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Februari 23, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Grace Jeanie AW
MENYESAL aku menolak tawaran itu. Seandainya kuterima mungkin sekarang ini aku sudah memakai gincu dan baju merah hati seperti Siti atau Tatik tetangga sebelahku.
Paling tidak ijasah SMA bisa kugunakan untuk mencari pekerjaan seperti mereka di kota sebagai pramuniaga pasar swalayan.
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Februari 7, 2008 oleh kapasmerah
Oleh: Deepee
Setiap kali hujan turun, gerimis ataupun lebat, dengan atau tanpa gelegar petir yang menyambar-nyambar serta angin yang bertiup kencang, lelaki itu selalu berjalan dengan santai di bawahnya. Dengan tangan di dalam saku celana, dengan tubuh dan pakaian yang basah kuyup sampai ke dalam ia melangkah ringan seperti tidak terjadi apa-apa. Dari mulutnya terdengar ia [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | 2 Komentar »