Posted on November 17, 2008 by kapasmerah
Oleh: Harsutejo
Seperti telah dijanjikan tepat jam sembilan pagi pak Marta Widjaya telah sampai di kantor Darto. Dengan sedan BMW mereka meluncur ke pabrik paku di kawasan industri. Ini merupakan kunjungan Darto pertama sebagai pejabat bank ke pabrik itu. Pekerjaan tambahan sebulan sekali ini merupakan selingan cukup menarik baginya dalam lingkaran pekerjaan rutin di belakang meja, [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on November 10, 2008 by kapasmerah
Oleh: Seno Gumira Ajidarma
Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on November 10, 2008 by kapasmerah
Oleh: Hujan
Saiman masih duduk menatap screen berbingkai dan rakel yang menempel di tembok kiosnya. Sudah delapan bulan musim kampanye kali ini berlalu, namun belum ada satu partai pun yang memesan keperluan kampanye. Padahal, kampanye kali ini berbeda dengan musim kampanye yang sudah-sudah. Selain lama waktu yang menggunakan perhitungan wanita hamil, yakni sembilan bulan, kampanye kali [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on September 12, 2008 by kapasmerah
Oleh: Novel
Pagi-pagi buta. Melalui lubang jendela. Aku merasakan ada sesuatu yang masuk dengan lembut. Terlihat tirai jendela yang selalu terbuka, tersibak pelan, lalu sesuatu itu sampai di hidungku. Wanginya sangat khas. Wangi hujan. Aku kenal betul dengan wanginya. Meskipun ia sudah lama tidak menyapa, tetapi aku tidak akan melupakannya. Karena aku menyimpannya di sebuah kotak [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on Agustus 13, 2008 by kapasmerah
Oleh: Hujan
Aku, Omar Hen
(sebuah apologi)
Pelarian ini begitu melelahkan. Betul, kupikir-pikir demikian. Aku, Omar Hen, bapakku langit dan ibuku bumi. Puluhan tahun aku sudah berlari, melarikan diri dari identitasku sendiri.
Aku sudah lelah untuk berlari dan sembunyi. Tapi kenyataannya, sekarang aku sudah letih. Dan tak punya semangat lagi untuk melanjutkan kesendirianku.
Aku kesepian. Di dalam pelarianku, aku kesepian. [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on Juni 26, 2008 by kapasmerah
Oleh: Laila
Bunyi musik dangdut menghentak gendang telinga. Bau asap rokok dan ceracau celotehan para pemabuk yang mulutnya bau alkohol menjadi makanan sehari-hari. Di tempatku Pasar Kembang dahulu kala. Tempat orang berjualan kembang untuk ziarah. Kini menjadi tempat orang berjualan ’ kembang ’. Sepertiku ? Ya, sepertiku……. Aku primadona sarkem.
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on Mei 10, 2008 by kapasmerah
Oleh: Hujan
Entahlah, bagaimana mungkin aku bisa meletakkan kebenaran dan kepalsuan di dalam satu jubah? Aku tak bisa menjawabnya, sama seperti aku tak bisa menjawab apakah alasan Rianti menghianati Drajat dapat dibenarkan atau tidak.
Perempuan itu baru saja datang padaku. Dengan mata yang sembab dan kuyu dia mengadukan perlakuan yang baru saja diterimanya. Oh, perempuan yang malang. [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | 5 Komentar »
Posted on Mei 9, 2008 by kapasmerah
Oleh: Nurjanah Laila
“ Cinta ? Tahu apa kamu tentang cinta ? Cinta itu absurd , ilusi orang-orang bodoh yang tak punya harapan. Khayalan sesaat yang nggak bisa dibuktikan eksistensinya. Bagiku cinta itu tak ada. Cinta itu dongeng pengantar tidur. Hanya melenakan saja. Fungsinya sebagai tempat sampah para pengagumnya. Pembuat puisi cengeng , penyanyi melankolis dan [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Leave a Comment »
Posted on Mei 9, 2008 by kapasmerah
Oleh: Hujan
(Untuk saudaraku yang telah diamukombak. Yaa Tuhan, beri mereka tempat di sisi-Mu)
IRING-IRINGAN mayat itu terus melangkah dengan anggun! Setiap tempat yang disinggahinya selalu ada saja yang berpartisipasi untuk ikut di dalam konvoinya. Menakjubkan! Mayat-mayat itu mengapung dalam kediaman yang anggun, kaku, pasrah. Mayat-mayat memenuhi pantai, mayat-mayat membanjiri jalan. Mayat-mayat menerobos kota. Benar-benar sebuah karnaval [...]
DIarsipkan di bawah: Cerpen | 1 Komentar »