Puisi-puisi Heri Latief

KOMPAS/PRIYOMBODO
Gedung DPR RI
/Sabtu, 25 Juli 2009 | 23:51 WIB
Tahun 1982 Ke Jerman Barat, sekolah sampai 1986, di jurusan ekonomi dan politik. Pernah tinggal dan sekolah di Neumunster. Kini tinggal di Belanda

separuh waktu, istriku.

Oeh: Deepee
Kita masih disini
Mendekap dingin dan menatap rembulan yang sama.
Setengah putaran waktu habis kita teguk
Kau masih menuntunku
Meski lelah tubuhmu, ku tahu.
Cahaya perak menampakkan putih helai rambutmu
Duka dan bahagia. airmata dan cinta, jelas terlukis disitu.
Bahumu tak lagi setegar dulu
Namun masih kau tampung tangisku
Meski dapat kubaca jelas perih dimatamu.
Kelak, sajak-sajak kasihmu akan membeku di dinding batu
Dibawah senja [...]

Puisi Wenni Suryandari

Puisi Wenni Suryandari
Markum dan Markonah
Seringai malam
Menghitung desah demi desah
Ketika jendela kabut
Menatap kosong
Pada kanvas langit telanjang
Dua manusia bersatu nafas
Markum tersipu
Wanitanya lebih liar dari liar kuda
Markonah mengaum, menggigit
Menyedot segala huruf rekat
Aih,
Belepotan ludah kata terurai
Markonah ternyata perokok berat
Dibirunya bulan ia tak kaku
Mengunyah kata mengulum sajak
Menyedotnya hingga habis
Lalu rerangkai bait
Mengepul dari sela bibirnya
dalam basah embun biru
Markum tak lagi tersipu
“Ayo, [...]

Sekumpulan Puisi Moch Satrio Welang

Manusia Berkepala Singa Mendongak Menunggu Hujan
Batu berharap manusia memaku lidah
sempoa meminta manusia tak berjari
tuhan bermimpi manusia bersejadah
manusia memohon kitab suci manusiawi
manusia membawa sempoa memakan batu menghadap tuhan
sambil berkata
‘buah itu tak mesti kau ciptakan’
’surga neraka pastilah dongeng sebelum tidur’
‘ambil tulangku jadikan artefak masa depan’
‘aku pengembara’
‘kusujud di atas bara’
‘kutumbuk bulu mataku’
manusia tenggelam di sumur sumur
yang mereka gali [...]

Jadi, kudatangi kotamu

Oleh: Nina Yuliana
Ku datangi kota mu
dengan sekantung harap
sekoper angan
sayang, ku lupa
ajak prasangka
temaniku serta
Tembok tembok beton
Kokoh menjelma gunung
Cahaya warna warni
Ungu
Hijau
Kuning
Merah
Biru
Silaukan mata
Boneka boneka cantik
Di etalase toko itu
Papan papan billboard
Hingar bingar musik
ku letakkan koper angan
di trotoar itu
kulepaskan kantung harap
dari pundakku
Gelap langit datang menyerbu
Terpa segala warna warni
Hujan muntahkan amarahnya
Puaskan dahaga
Cumbuiku
Perempuan tergesa
Pria berlari
Jalanan sepi
Kuyup ku sendiri
bersama sekoper angan
sekantung harap
di trotoar [...]

Hujan dan Kunang Kunang

Oleh: Novel
ketika bintang-bintang menanar
waktu itu malam sudah melenggang
sementara anjing-anjing di tengah kota
merangkak mencari mangsa
daging-daging mentah yang segar
darah-darah yang menetas, manis!
mungkin begitulah cerita kota
ketika hujan hujan dan kunang-kunang
tak lagi datang terbang
aku pun harus pergi ke ladang
kunang kunang yang menari
hujan hujan merebahkan diri
sepertinya, di sini tempat nikmat untuk mati suri

Disumpahin anak muda

Oleh: Heri Latif
sumpahnya anak muda
terjadi di jaman belanda
gaungnya kini sampai mana?

Sumpah Pemuda (Jaman Sekarang)

Oleh: Gita Pratama
Ketika ketauan SMS contekan pas ujian
“Sumpah pak..! bukan sms contekan. tadi baru di sms anak klas sebelah.”

Kondangan

Oleh: Bung Kelinci
Berputar berpusing-pusing
mencari gedung di Kelapa Gading
resepsi atasan sekantormu, Ling Ling
akhirnya sampai juga
mobil merek-merek ternama
sliweran silih berganti
satpam dan petugas ramah menyambuti
melihat kau mereka malah memperingati
“Hey, Mas…motor sebelah sana!”
sebentak kalimat bikin istrimu terpana
masuk lobby istrimu menarikmu ke sudut sana
“Mas, amplopnya diberi nomer!”
sontak hatimu keder
di amplopmu cuma sepuluh ribu
diberi nomer pasti kedua mempelai tahu
karena angkanya sama [...]